Unesa Ungkap Jaringan Joki UTBK, Bawa KTP dan Ijazah Palsu

Kompas.com - 22/04/2026, 17:33 WIB
Wakil Rektor I Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan dan Alumni Unesa, Martadi. KOMPAS.com/AZWA SAFRINAWakil Rektor I Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan dan Alumni Unesa, Martadi.

SURABAYA, KOMPAS.com - Universitas Negeri Surabaya ( Unesa) mengungkapkan sindikat jaringan joki Ujian Tulis Berbasis Komputer ( UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) setelah adanya kasus yang terungkap pada Selasa, 21 April 2026.

Wakil Rektor I Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan dan Alumni Unesa, Martadi, menerangkan bahwa kasus tersebut terungkap setelah adanya kecurigaan terhadap salah satu peserta UTBK yang bertempat di Gedung Rektorat ruangan V pada sesi pertama sekitar pukul 06.45-10.30 WIB.

Martadi mengungkapkan bahwa kecurigaan tersebut telah muncul sejak awal saat peserta melakukan pendaftaran ulang UTBK dengan menggunakan AI face recognition.

“Memang kemudian kita menemukan ada potensi sebuah foto dengan tingkat kemiripan hampir 95 persen,” kata Martadi kepada awak media di Gedung Rektorat, Rabu (22/4/2026).

Baca juga: Dugaan Kecurangan UTBK Undip Terbongkar, Tim Medis Keluarkan Logam dari Telinga Peserta

Pihak kampus menduga bahwa peserta menggunakan foto Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) di dua tahun yang berbeda.

Diduga tahun lalu pelaku telah menggunakan foto tersebut untuk tes penerimaan universitas di luar negeri pada 2025, tetapi pihaknya tidak hadir.

“Kenapa tidak datang? Kita sempat dalamin, ternyata karena sudah dapat instruksi, ada (pelaku lain) yang sudah tertangkap di Bandung, sehingga dia tidak jadi datang,” ujarnya.

Namun, Martadi mengungkapkan bahwa pelaku joki masih sempat diperbolehkan untuk mengikuti UTBK terlebih dahulu.

“Nah, mungkin karena hari pertama, sehingga mereka berani datang. Karena tidak ada informasi akan ada kecurangan sehingga begitu sudah masuk, mereka tetap kita biarkan untuk mengikuti proses karena itu adalah hak mereka,” katanya.

Baca juga: Unesa Ungkap Identitas Pelaku Joki UTBK, Diduga Jaringan Sindikat Nasional

Kemudian, setelah ujian selesai pelaku joki langsung digiring oleh tim supervisi nasional untuk dilakukan pendalaman.

“Dari temuan itu memang akhirnya diketahui ada pengakuan bahwa mereka joki. Ya, dia mengaku memang dia joki,” ujarnya.

Martadi menuturkan, pelaku joki dan penjoki pernah bertemu dua kali di sebuah kafe dan disiapkan sejumlah dokumen.

“Kemudian, ketika kita telusuri lebih jauh, siapa yang memerintah? Ada dua layer di atasnya dan layer itu selalu missing link. Sudah enggak bisa disebut lagi,” ucapnya.

Dia menyebut bahwa antar peserta atau pelaku joki tidak pernah saling kenal. Mereka biasanya hanya akan dipertemukan dengan penjoki.

“Jadi mereka direkrut di sebuah kafe. Konon dua kali dia bertemu untuk mendapat order itu,” katanya.

Baca juga: Cegah Joki UTBK 2026, UB Pakai Alat Pendeteksi Earphone

Atas dasar itu, dia menilai bahwa praktik joki UTBK tersebut tersistematis secara profesional dan memiliki jaringan sindikat yang lebih luas.

“Nah, satu layer di atasnya lagi itu bukan dari Jawa Timur, sudah jaringan nasional. Dan itu tampaknya menjadi menarik untuk dilakukan pendalaman lebih jauh, karena ini tampaknya bukan hanya kasuistik di Unesa, tetapi juga di perguruan tinggi yang lain,” ujarnya.

Berdasarkan pengakuan pelaku, seluruh dokumen mulai dari KTP dan ijazah sudah dipersiapkan oleh penjoki.

“Jadi sudah disiapkan KTP atas nama yang di joki, ijazah atas nama yang di joki dan di stempel basah. Jadi bukan, bukan fotokopi, ijazah beneran,” ungkapnya.

Unesa juga menelusuri data sekolah pelaku joki dan didapatkan bahwa data ijazah palsu dan asli sama persis hanya berbeda di bagian foto.

“Sehingga setelah kita telusur dan kita yakin bahwa yang bersangkutan sudah ada pengakuan, maka kami Unesa sebagai panitia melaporkan kepada pusat untuk melakukan konsultasi langkah lanjut yang harus dilakukan,” katanya.

Baca juga: Nekat Curang Saat UTBK SNBT? Ini 3 Sanksi Berat yang Menanti Peserta

Kini, pelaku telah diserahkan ke Polrestabes Surabaya untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Di samping itu, Unesa juga menemukan adanya beragam blangko yang siap dicetak menjadi KTP palsu di sepeda motor penjoki.

“Jadi, kalau di ruangan mereka (pelaku joki) sama sekali tidak membawa identitas apa pun. Dia mengaku seperti nama anak itu (sesuai identitas palsu itu). Dia juga ternyata dilatih menghafalkan nama anaknya, orangtuanya siapa, dan seterusnya,” ujarnya.

"Nah, kemarin ketika yang bersangkutan kita tanya katanya dia orang Madura. Begitu kita tanya bahasa Madura dia enggak bisa. Nah, berarti memang anak-anak ini (menggunakan) joki,” kata Martadi lagi.

Baca juga: Sederet Kecurangan UTBK 2026: Undip Temukan Alat di Telinga, Kampus Lain Ungkap Joki

Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, menegaskan akan mendiskualifikasi para peserta yang menggunakan jasa joki dari UTBK, sekaligus membacklist dari seluruh Perguruan Tinggi Negeri (PTN) seluruh Indonesia untuk seumur hidup.

“Karena ini sangat mencederai dari tujuan pendidikan kita yang mengedepankan integritas dan kejujuran. Jadi, boleh saja kita melakukan kekeliruan di dalam proses-proses keilmuan, tapi tidak boleh tidak jujur,” ujar Atip.

Hal itu dilakukan untuk mencegah peserta melakukan tindakan serupa di tahun-tahun berikutnya.

“Ya, sekarang enggak ada ditemukan dan setelah dia diterima itu, ditemukan bukti-bukti itu, maka menurut saya itu harus dikeluarkan,” pungkasnya.

Baca juga: Unesa Ungkap Identitas Pelaku Joki UTBK, Diduga Jaringan Sindikat Nasional

Close Ads X