IDI Soroti Bahaya Joki UTBK yang Incar FK: Loloskan Orang Tidak Kompeten

Kompas.com - 23/04/2026, 13:04 WIB
Ilustrasi dokter, jurusan kedokteran. Dok. Freepik/jcompIlustrasi dokter, jurusan kedokteran.
Penulis Nur Khalis
|

SUMENEP, KOMPAS.com - Praktik joki Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) demi bisa masuk Fakultas Kedokteran, dinilai meresahkan. Sebab, jika joki tersebut berhasil, maka yang lolos adalah calon mahasiswa inkompeten.

Ketua IDI Sumenep Rifmi Utami berharap agar sistem seleksi calon mahasiswa dapat terus diperkuat dari waktu ke waktu, untuk mencegah terjadinya kecurangan saat ujian.

“Saya sih prihatin saja, para profesional joki itu ya, yang menganggapnya sebagai mata pencaharian itu tetap ada. Tetap mencari celah gitu untuk bisa meloloskan orang yang tidak kompeten,” kata Rifmi, Kamis (23/4/2026).

“Mudah-mudahan sistem yang digunakan oleh pemerintah itu lebih baik gitu ya, sehingga tidak bisa ditembus oleh joki ya,” ucapnya.

Baca juga: Alasan Joki UTBK Beraksi, Unesa: Katanya dari Keluarga Miskin, tapi Baju-Kacamata Bermerek

Semakin Canggih

Rifmi mengaku tak terkejut sebenarnya mendengar praktik joki saat UTBK SNBT. Hanya saja, ia menyesalkan peristiwa yang terus berulang ini.

"Karena memang adanya kejadian itu memang dari lama ya. Pada saat dulu UNBTN, kalau yang dulu itu tradisional. Ada orang yang ikutan juga gitu, kayak ngasih tahu sama sebelah-sebelahnya gitu. Dulu gitu kalau metodenya,” ujarnya.

Meski sistem UTBK berbasis komputer saat ini dinilai lebih ketat, tidak menutup kemungkinan masih ada celah bagi joki tetap beraksi.

“Kalau sekarang sebenarnya joki itu sulit. Karena pakai komputer, sulitnya soalnya satu sama lain beda, jadi fokus sama pekerjaannya sendiri,” katanya.

Baca juga: Terungkap, Peserta SNBT yang Sewa Joki UTBK Incar Jurusan Kedokteran

“Tapi yang namanya, mungkin ada celah yang mungkin bisa tembus, saya juga tidak tahu ya. Dari dulu hanya kok bisa, kok bisa, gitu saja,” lanjutnya.

Ambisi Jadi Dokter

Di sisi lain, ia menambahkan bahwa kuatnya ambisi untuk masuk Fakultas Kedokteran menjadi motif utama para peserta memakai joki.

“Kalau saya melihat sih, kemungkinan besar, mungkin ya, orang yang memiliki ambisi untuk menjadi seorang dokter,” tambahnya.

“Kalau sewa-sewa joki ya, mungkin dia orang yang kaya, kepengen anaknya, pengen jadi dokter. Tapi dari sisi nilai belum sesuai kemampuan, akhirnya ya itu dia pakai joki,” tambah dia lagi.

Apresiasi yang Berjuang Sendiri

Di sisi lain, IDI mengapresiasi peserta yang menempuh jalur jujur dan mengandalkan kemampuan sendiri.

Baca juga: Unesa Perketat Pengawasan UTBK Imbas Ada Praktik Joki, Ini Langkah-langkahnya

“Kalau sejauh ini, kami justru mengapresiasi mereka yang benar-benar dari nol, belajarnya ekstra, kemudian dia memang bisa punya cita-cita, ingin mengabdi pada kemanusiaan,” ucapnya.

Dia menegaskan, sistem seleksi sudah menyediakan berbagai jalur, mulai dari SNBP, tes, hingga jalur mandiri. Selain itu, proses penyaringan tetap terjadi saat kuliah.

“Mulai dari dia (calon mahasiswa) memang berprestasi dari sekolahnya, mulai SNBP, ada yang lewat tes, ada yang otonomi kampus. Seleksi alamnya pada saat kuliah, bertahan atau tidak, toh misalnya dia nanti lulus, seleksi alam akan terjadi,” ujarnya.

Joki UTBK

Sebelumnya, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, mengungkap adanya peserta SNBT yang menyewa joki untuk mengincar kursi Fakultas Kedokteran.

Temuan itu disampaikan saat meninjau pelaksanaan UTBK di Universitas Negeri Surabaya, Rabu (22/4/2026) lalu.

Baca juga: Joki UTBK Terungkap, Kampus-kampus di Surabaya Perketat Pengawasan

“Iya, kedokteran (jurusan yang diincar peserta penyewa joki), kedokteran salah satu perguruan tinggi di Jawa Timur,” ujar Atip.

Dia menegaskan, peserta yang terbukti menggunakan joki akan didiskualifikasi dan di-blacklist dari seluruh Perguruan Tinggi Negeri (PTN) seumur hidup.

“Karena ini sangat mencederai dari tujuan pendidikan kita yang mengedepankan integritas dan kejujuran. Jadi, boleh saja kita melakukan kekeliruan di dalam proses-proses keilmuan, tapi tidak boleh tidak jujur,” ucapnya.

Close Ads X