Kisah Ortu yang Antar Anak Ikut UTBK 2026 di UB, Pilih Nginap di Mobil

Kompas.com - 23/04/2026, 13:40 WIB
Orangtua yang ikut mengantar anaknya ikut UTBK SNBT 2026 di UB pada hari pertama, Selasa, (21/4/2026). DOK. UBOrangtua yang ikut mengantar anaknya ikut UTBK SNBT 2026 di UB pada hari pertama, Selasa, (21/4/2026).

KOMPAS.com - Jarak sejauh 99 kilometer mungkin hanya deretan angka bagi sebagian orang. Namun pagi itu, bagi sebagian orangtua, menempuh jarak sebanyak itu adalah salah satu bukti cinta.

Menggunakan sepeda motor dari luar kota hingga menginap di dalam mobil, mereka rela melakukan apa saja demi melihat anaknya sukses menembus gerbang perguruan tinggi impian mereka.

Di saat hari pertama Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026 pada Selasa (21/4/2026) lalu, Universitas Brawijaya ( UB) seolah menjadi saksi bisu para orangtua dan anaknya berjuang.

Raut tegang tak cuma terlihat di wajah para peserta SNBT di Pusat UTBK Universitas Brawijaya.

Wajah lelah, tegang, penuh harap para orangtua seolah memenuhi semua sudut Universitas Brawijaya (UB).

Mereka berdiri di tepi jalan, duduk di selasar gedung, hingga yang sekadar menyandar di kursi taman. Kisah orangtua yang antar anak ikut UTBK 2026 di UB ini menjadi bentuk perjuangan mereka mendukung buah hatinya.

Baca juga: Sekolah Tak Ada Sinyal, 2 Siswa SLB Kerjakan Soal TKA di Pinggir Pantai

Antar cucu ikut UTBK 2026

Kisah unik datang dari Ibu Rasinah. Nenek asal Bojonegoro ini datang memboyong keluarga besar demi mendukung cucu pertamanya, Khoirus.

Tidak tanggung-tanggung, mereka menjadikan mobil sebagai “rumah sementara” untuk beristirahat selama di Malang.

”Kami menginap dan istirahat di mobil saja. Tidak apa-apa, yang penting bisa mendampingi,” ujar Rasinah yang sehari-harinya bekerja sebagai petani dikutip dari rilis UB pada Kamis, (23/4/2026).

Baginya, fleksibilitas waktu sebagai petani adalah berkah yang memungkinkannya menyaksikan momen bersejarah dalam hidup cucunya.

Saat lonceng ujian berakhir nanti, ribuan peserta akan keluar dari ruangan dengan berbagai raut wajah. Namun bagi para orangtua ini, perjuangan tidak berhenti saat lembar jawaban dikumpulkan.

Baca juga: 5 Beasiswa LPDP Co-Funding 2026 Tanpa Seleksi Bakat Skolastik

Dari Kediri ke Malang antar anaka ikut UTBK 2026

Zamzam, seorang Ayah asal Kediri ini menempuh perjalanan panjang dengan sepeda motor demi mengantar putranya, Sultan.

Demi momen ini, Zamzam rela menanggalkan seragam kantornya dan mengambil cuti dua hari.

”Saya berangkat dari Kediri kemarin, menginap di daerah Bukit Cemara Tujuh,” kisahnya. Baginya, menempuh puluhan kilometer dengan roda dua adalah bentuk dukungan paling nyata yang bisa ia berikan," ujarnya 

“Ini tentang masa depan anak. Saya hanya ingin dia tahu bahwa ayahnya ada di sini, mendukung mimpinya sampai jadi nyata,” kata Zam zam. 

Baca juga: Temuan Joki UTBK 2026, UM Akan Tindak Tegas Pelaku Kecurangan

Mendukung anak yang gagal tahun lalu, sampai kerja setoran dulu

Pemandangan berbeda terlihat di depan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Pasangan suami istri, Sulastri dan Sunardi, tampak duduk tenang namun raut wajah mereka tak bisa menyembunyikan kecemasan. Mereka datang jauh-jauh dari Probolinggo sejak pukul 03.00 dini hari.

Tahun ini adalah babak kedua bagi putra mereka, Fahat, yang sempat gagal di UTBK tahun lalu.

“Karena pernah gagal, sekarang semangatnya harus lebih tinggi. Kami ingin dia merasa yakin bahwa kegagalan kemarin bukan akhir,” tutur Sulastri lembut.

Kehadiran mereka di sana adalah penawar rasa trauma, sebuah pengingat bagi Fahat bahwa ada bahu tempatnya bersandar, apapun hasilnya nanti.

Dukungan tidak selalu berupa materi atau kehadiran fisik di hari ujian. Bagi Ardian, seorang pengemudi ojek online asal Sawojajar, perjuangan sudah dimulai jauh sebelum hari ini.

Di sela-sela waktu mencari penumpang, ia kerap mengirimkan tautan informasi soal-soal UTBK kepada anaknya.

”Saya ajak diskusi, saya amati proses belajarnya. Saya ingin dia siap secara mental,” ujar Ardian.

Baca juga: Modus Kecurangan UTBK SNBT 2026: Manipulasi Foto Pakai AI

Meski harus mengejar setoran, ia memilih hadir langsung di kampus Universitas Brawijaya untuk memastikan sang anak tidak merasa berjuang sendirian.

Di sepanjang jalan Fakultas Kedokteran hingga Samantha Krida, mereka tetap berdiri di sana, menjadi pelabuhan pertama bagi anak-anak mereka, membawa harapan agar nama buah hati mereka terukir di pengumuman kelulusan nanti. 

Close Ads X