Universitas Negeri Malang Kantongi Nama Terduga Peserta Joki UTBK

Kompas.com - 23/04/2026, 13:57 WIB
Gedung rektorat Universitas Negeri Malang pada April 2026. KOMPAS.com/ PUTU AYU PRATAMA SUGIYOGedung rektorat Universitas Negeri Malang pada April 2026.

MALANG, KOMPAS.com - Universitas Negeri Malang (UM) mengungkapkan telah mengantongi sejumlah nama yang diduga terlibat dalam praktik perjokian pada pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK).

Meski begitu, pihak kampus menegaskan bahwa proses investigasi masih berlangsung dan belum dapat dipublikasikan secara terbuka.

Direktur Pendidikan UM, Evi Elinayah, menjelaskan bahwa dugaan tersebut terungkap setelah panitia menemukan ketidaksesuaian data peserta.

Namun, saat indikasi awal muncul, sosok yang diduga sebagai joki sudah tidak berada di lokasi ujian.

Baca juga: IDI Soroti Bahaya Joki UTBK yang Incar FK: Loloskan Orang Tidak Kompeten

“Kami memang mengetahui agak terlambat, ketika yang diduga joki ini sudah tidak ada di tempat. Tapi bukan berarti kami diam. Kami langsung menindaklanjuti dengan mencocokkan data dari panitia pusat dengan album peserta,” ujar Prof Evi, Kamis (23/4/2026).

Dari proses tersebut, tim kemudian mengerucutkan identitas pada beberapa nama yang memiliki kemiripan data dan wajah.

Penelusuran dilakukan dengan memanfaatkan berbagai sumber, termasuk media sosial.

“Kami mencari nama tersebut di berbagai sumber, termasuk media sosial. Dari situ kami bisa melihat wajah yang bersangkutan, bahkan dari unggahan sekolah seperti video MPLS atau wisuda. Itu sangat membantu proses investigasi kami,” jelasnya.

Meski telah mengantongi identitas yang mengarah pada pihak tertentu, UM belum dapat mengungkapkan identitas tersebut ke publik.

Baca juga: Alasan Joki UTBK Beraksi, Unesa: Katanya dari Keluarga Miskin, tapi Baju-Kacamata Bermerek

Hal ini karena proses investigasi masih berada dalam kewenangan panitia pusat SNPMB.

“Kami sudah mengerucut pada satu nama tertentu dan juga sudah mendapatkan klarifikasi dari berbagai pihak yang mengenal sosok ini. Namun, kami belum bisa menyampaikan ke media karena masih tahap investigasi,” tegas Evi.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa modus yang digunakan dalam kasus ini adalah dengan menjadikan joki sebagai peserta ujian menggunakan identitas palsu.

Identitas tersebut digunakan untuk mendaftar hingga mengikuti ujian.

“Jokinya mendaftar sebagai peserta. Mereka memalsukan identitas seperti KTP, bahkan dokumen lain seperti ijazah atau Surat Keterangan Lulus,” katanya.

Dalam pelaksanaan UTBK, panitia lokasi hanya mencocokkan kartu peserta dengan identitas yang dibawa, termasuk wajah peserta.

Namun, keaslian dokumen seperti KTP tidak diperiksa secara forensik.

“Celahnya ada di situ. Kami di lokasi hanya mencocokkan data, tidak sampai memverifikasi keaslian dokumen,” ujarnya.

Evi juga mengungkapkan bahwa praktik perjokian bukanlah modus baru.

Kasus serupa pernah ditemukan pada tahun-tahun sebelumnya, bahkan satu orang joki bisa terdaftar di beberapa lokasi ujian dengan jadwal berbeda.

Karena itu, pihak SNPMB terus berupaya memperketat sistem guna meminimalisasi kecurangan, termasuk dengan pengaturan lokasi ujian yang lebih terkontrol.

“Upaya perbaikan terus dilakukan. Sistem yang ada sekarang sebenarnya sudah cukup baik untuk menekan potensi kecurangan, termasuk perjokian. Tapi tentu tetap butuh dukungan semua pihak, termasuk masyarakat dan media,” pungkasnya.

Close Ads X