Gedung rektorat Universitas Negeri Malang pada April 2026. MALANG, KOMPAS.com – Praktik joki dalam Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes ( UTBK-SNBT) 2026 kembali terungkap.
Kali ini, Universitas Negeri Malang ( UM) menemukan dugaan kecurangan dengan modus penggunaan identitas palsu oleh pelaku saat pelaksaan UTBK pada Selasa (21/4/2026).
Pihak kampus mengungkap telah mengantongi sejumlah nama yang diduga terlibat dalam praktik tersebut.
Meski demikian, proses investigasi masih berlangsung sehingga identitas pelaku belum dapat dipublikasikan ke publik.
Baca juga: Terkuak Joki UTBK 2026, Pengamat Soroti Pola Pikir Instan dan Peran Orangtua
Direktur Pendidikan UM, Evi Elinayah, menjelaskan bahwa dugaan praktik joki terungkap setelah panitia menemukan ketidaksesuaian data peserta saat pelaksanaan ujian.
“Kami memang mengetahui agak terlambat, ketika yang diduga joki ini sudah tidak ada di tempat. Tapi bukan berarti kami diam. Kami langsung menindaklanjuti dengan mencocokkan data dari panitia pusat dengan album peserta,” ujarnya, Kamis (23/4/2026), dilansir dari Kompas.com.
Dari hasil penelusuran, diketahui pelaku menggunakan identitas palsu untuk mendaftar hingga mengikuti ujian.
“Jokinya mendaftar sebagai peserta. Mereka memalsukan identitas seperti KTP, bahkan dokumen lain seperti ijazah atau Surat Keterangan Lulus,” jelasnya.
Evi mengungkapkan, dalam pelaksanaan UTBK, panitia di lokasi hanya melakukan pencocokan antara kartu peserta, identitas, dan wajah.
Namun, keaslian dokumen seperti KTP tidak diverifikasi secara forensik di lokasi ujian.
“Celahnya ada di situ. Kami di lokasi hanya mencocokkan data, tidak sampai memverifikasi keaslian dokumen,” ujarnya.
Baca juga: Pakai Joki UTBK 2026? Siap-siap Didiskualifikasi dan Diblacklist Seumur Hidup dari PTN
Hal inilah yang dimanfaatkan pelaku untuk masuk sebagai peserta ujian dengan identitas palsu.
Meski telah mengantongi identitas yang mengarah pada pihak tertentu, UM belum dapat mengungkapkan secara resmi karena proses masih berada dalam kewenangan panitia pusat.
“Kami sudah mengerucut pada satu nama tertentu dan juga sudah mendapatkan klarifikasi dari berbagai pihak yang mengenal sosok ini. Namun, kami belum bisa menyampaikan ke media karena masih tahap investigasi,” tegas Evi.
Menurut pihak kampus, praktik joki bukanlah hal baru dalam pelaksanaan UTBK. Kasus serupa juga pernah ditemukan pada tahun-tahun sebelumnya.
Bahkan, dalam beberapa kasus, satu orang joki bisa terdaftar di lebih dari satu lokasi ujian dengan jadwal berbeda.
Karena itu, panitia pusat Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) terus melakukan perbaikan sistem guna menutup celah kecurangan.
Baca juga: IDI Soroti Bahaya Joki UTBK yang Incar FK: Loloskan Orang Tidak Kompeten
Pihak kampus menilai sistem UTBK saat ini sebenarnya sudah cukup baik untuk menekan potensi kecurangan. Namun, tetap dibutuhkan penyempurnaan serta dukungan dari berbagai pihak.
“Upaya perbaikan terus dilakukan. Sistem yang ada sekarang sebenarnya sudah cukup baik untuk menekan potensi kecurangan, termasuk perjokian. Tapi tentu tetap butuh dukungan semua pihak, termasuk masyarakat dan media,” pungkas Evi.