Pemerintah Didesak Cegah Kecurangan pada UTBK 2026

Kompas.com - 23/04/2026, 18:16 WIB
Sejumlah peserta mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) 2026 di Universitas Diponegoro (UNDIP), Tembalang, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (22/4/2026). Sebanyak 23.933 peserta tercatat mengikuti UTBK-SNBT 2026 di UNDIP yang digelar pada 21-29 April 2026. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar ANTARA FOTO/Aprillio AkbarSejumlah peserta mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) 2026 di Universitas Diponegoro (UNDIP), Tembalang, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (22/4/2026). Sebanyak 23.933 peserta tercatat mengikuti UTBK-SNBT 2026 di UNDIP yang digelar pada 21-29 April 2026. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua DPR Puan Maharani mendesak pemerintah bisa mencegah terjadinya kecurangan dalam Ujian Tulis Berbasis Komputer ( UTBK) yang digelar setiap tahunnya.

Pasalnya dari tahun ke tahun, modus kecurangan dengan pemanfaatan teknologi dalam ujian tersebut semakin canggih.

"Negara perlu memastikan bahwa ruang kecurangan semakin sempit dari tahun ke tahun, bukan sekadar merespons setelah pelanggaran terjadi. Artinya harus ada mitigasi," tegas Puan dalam keterangannya, Kamis (23/4/2026).

Baca juga: Harapan Orangtua Anaknya Lolos UTBK UNJ: Ini Anak Satu-satunya...

Berbagai temuan kecurangan dalam pelaksanaan UTBK 2026 dinilai tidak lagi sebatas pelanggaran individu.

Fenomena tersebut menunjukkan adanya pola berulang dengan metode yang semakin kompleks dari waktu ke waktu.

“Pola yang berulang dengan teknik yang semakin kompleks menunjukkan bahwa tekanan kompetisi pendidikan hari ini telah berkembang dalam bentuk yang menuntut perhatian lebih serius,” kata Puan.

Baca juga: Di Balik UTBK 2026, Ada Orangtua yang Rela Tinggalkan Kerja demi Dampingi Anak

Lebih lanjut, praktik kecurangan itu dinilai berpotensi merusak prinsip dasar seleksi nasional yang seharusnya menjunjung meritokrasi, yakni penilaian berdasarkan kemampuan akademik.

“Setiap bentuk kecurangan yang berupaya menembus sistem dengan bantuan teknologi, identitas palsu, atau pihak pengganti sesungguhnya merusak kepercayaan kolektif terhadap mekanisme meritokrasi,” kata Puan.

Pengetatan sistem pengawasan UTBK harus dilakukan pemerintah, demi terjaganya integritas seleksi masuk ke perguruan tinggi negeri ( PTN).

Ia meminta panitia pelaksana dan kementerian terkait menjadikan setiap celah kecurangan, sebagai bahan evaluasi menyeluruh untuk memperbaiki desain seleksi ke depan.

"Melihat modus kecurangan yang semakin berkembang, maka diperlukan adaptasi sistem dan teknologi pengawasan. Apalagi, di tengah kemajuan zaman sekarang, banyak sarana yang memungkinkan kecurangan dapat dilakukan,” kata Puan.

Baca juga: KPK Soroti Ujian UTBK Pasang Kamera di Behel: Ini Namanya Koruptif

Suasana para peserta yang melaksanakan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT).KOMPAS.com/AZWA SAFRINA Suasana para peserta yang melaksanakan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT).

Modus Kecurangan UTBK 2026

Pada hari pertama penyelenggaraan UTBK 2026 (Ujian Tulis Berbasis Komputer), Selasa (21/4) sesi pertama, sudah ditemukan upaya kecurangan yang dilakukan peserta.

Panitia SNPMB mengungkapkannya lewat konferensi pers yang disiarkan secara langsung di kanal YouTube Kemendikti saintek.

"Pada pagi hari ini sampai dengan pukul 09.00 WIB kita telah mendapatkan informasi berbagai macam kecurangan yang coba dilakukan peserta UTBK di beberapa Pusat UTBK," ucap Ketua Umum Tim Penanggung Jawab SNPMB 2026, Eduart Wolok di Media Center Pusat UTBK Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Baca juga: UTBK SNBT 2025 Diwarnai Kecurangan, Kemendikti Saintek Sebut Ada Sindikat

"Yang pertama kita dapatkan kecurangan di Pusat UTBK Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar). Kecurangannya berupa indikasi ingin menggunakan alat bantu. Jadi alat bantu ini disembunyikan di pakaian dan sebagainya dan alhamdulillah bisa kita deteksi," sambung Eduart.

Masih di Unsulbar, ditemukan juga siasat menggunakan joki sebagai peserta ujian.

"Ditemukan upaya perjokian dengan mengganti peserta. Jadi sengaja dia, orang yang sama mengikuti UTBK 2025, itu ikut lagi di 2026 dengan nama yang berbeda untuk nama pesertanya. Jadi orangnya sama ikut ujian 2025 dan 2026 untuk dua nama. Jadi udah pasti merupakan joki yang mengganti," ungkap Eduart.

Baca juga: Dirjen HAM Soroti Peserta Tunarungu UTBK Diminta Copot Alat Bantu Dengar: Tak Hormati Penyandang Disabilitas

Ia berujar trik joki ini bisa diketahui dari bukti tahun lalu yang dikembangkan dalam penyelidikan. Lagi-lagi, ada dua perempuan yang data pesertanya ditunjukkan panitia.

Selain itu, kecurangan juga ditemukan di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Airlangga (Unair), dan UPN Veteran Jawa Timur.

Close Ads X