Cara Orangtua Bantu Anak Kelola Stres Usai UTBK 2026

Kompas.com - 23/04/2026, 20:00 WIB
Uti (45) sedang menunggu anaknya, Nadif, mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ) di Jakarta Selatan, Kamis (23/4/2026). Kompas.com / Nabilla RamadhianUti (45) sedang menunggu anaknya, Nadif, mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ) di Jakarta Selatan, Kamis (23/4/2026).

DEPOK, KOMPAS.com - Ujian Tulis Berbasis Komputer ( UTBK) merupakan momen penentu bagi calon mahasiswa perguruan tinggi negeri. Ujian ini kerap menghadirkan tekanan psikologis luar biasa bagi para peserta. Adapun UTBK dijadwalkan berlangsung pada 21-30 April 2026. 

Kehadiran keluarga di lokasi ujian tak hanya sekadar memberikan dukungan di awal keberangkatan bagi para peserta. Berbagai taktik pertolongan pertama emosional telah disiapkan oleh para orangtua sesaat setelah anak mereka keluar dari ruang ujian.

Langkah antisipasi ini dinilai sangat penting agar anak terhindar dari stres berat pasca-ujian yang merugikan.

“Sudah keluar ruangan tidak usah ditanya-tanya bisa apa tidaknya, dibiarkan saja biar anak tidak tambah stres setelah ujian,” ucap Irma (49) kepada Kompas.com di Universitas Indonesia (UI), Kota Depok, pada Kamis (23/4/2026)

Baca juga: Listrik Sempat Padam Saat UTBK 2026 di UNJ, Panitia Pastikan Jawaban Peserta Aman

"Pertolongan pertama" orangtua redam stres anak pasca-UTBK

Nahar (57) dan istrinya, Irma (49), sedang menunggu anak mereka, Bilqis, mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di Universitas Indonesia (UI), Kota Depok, Kamis (23/4/2026).Kompas.com / Nabilla Ramadhian Nahar (57) dan istrinya, Irma (49), sedang menunggu anak mereka, Bilqis, mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di Universitas Indonesia (UI), Kota Depok, Kamis (23/4/2026).

Memberi "ruang napas" dan memulihkan energi lewat makanan favorit

Irma dan suaminya, Nahar (57), sepakat untuk menunda segala pembahasan teknis terkait kelancaran menjawab soal demi menjaga ketenangan Bilqis.

Siswi yang sangat mengincar jurusan Psikologi UI tersebut diyakini sudah cukup terkuras energinya lantaran giat belajar mandiri selama setahun terakhir.

“Kita kasih minuman dan makanan yang enak dulu supaya dia tenang,” tutur Irma.

Menurutnya, langsung "menyerang" anak dengan pertanyaan evaluasi hanya akan memicu kemarahan dan rasa frustasi setelah berjam-jam menatap layar komputer.

Baca juga: Menunggui Anak di UTBK 2026 Jadi Bentuk Dukungan Mental Orangtua

Hal senada juga diterapkan oleh Endah (41) yang setia menunggu putrinya, Zahra, di kampus Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ).

Endah memiliki cara unik untuk mengecek tingkat ketegangan anaknya yang sedang memperjuangkan jurusan Psikologi UI dan Hukum Universitas Padjadjaran (Unpad) tersebut.

Endah (41), sedang menunggu anaknya, Zahra, mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ) di Jakarta Selatan, Kamis (23/4/2026).Kompas.com / Nabilla Ramadhian Endah (41), sedang menunggu anaknya, Zahra, mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ) di Jakarta Selatan, Kamis (23/4/2026).

Alih-alih mencecar soal ujian, ia justru memantau nafsu makan sang anak untuk memastikan tidak ada gejala demam panggung yang berlebihan.

“Makanya saya lebih memilih bertanya bagaimana perasaannya setelah ujian selesai,” kata Endah di UPNVJ.

Endah sempat khawatir karena sang putri tidak berselera makan saat sarapan. Menurutnya perasaan tersebut karena sang buah hati terlalu stres dengan UTBK.

Memberikan "hadiah" kebebasan dan validasi atas perjuangan anak

Strategi lain yang sangat efektif untuk menetralisir ketegangan adalah dengan menawarkan distraksi yang menyenangkan di luar urusan akademik.

Baca juga: Bahaya Kecanduan YouTube pada Remaja, Termasuk Terpapar Konten Ekstrem

Devi (40), sedang menunggu anaknya, Aisyah, mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ) di Jakarta Selatan, Kamis (23/4/2026).Kompas.com / Nabilla Ramadhian Devi (40), sedang menunggu anaknya, Aisyah, mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ) di Jakarta Selatan, Kamis (23/4/2026).

Devi (40) berencana memberikan kehangatan fisik sekaligus hadiah kecil bagi anaknya, Aisyah, yang memilih jurusan Bahasa Inggris dan Bahasa Korea di UI, serta Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

“Tidak mungkin akan ada banyak pertanyaan. Mungkin bertanya sedikit saja, lalu saya kasih pelukan sebagai tanda terima kasih atas perjuangannya,” ungkap Devi di UPNVJ.

Ia juga sudah merencanakan agenda makan-makan bersama sebagai bentuk apresiasi langsung atas dedikasi belajar sang anak selama berbulan-bulan.

Memberikan ruang kebebasan penuh bagi anak untuk merayakan berakhirnya masa ujian juga menjadi bentuk validasi emosional yang sangat penting bagi Uti (45).

“Nanti kalau mau pulang santai saja silakan, kamu mau ke mana bebas, itu waktu kamu untuk bebas setelah berusaha keras,” ucap Uti di UPNVJ.

Baca juga: Remaja Mudah Stres karena Media Sosial? Psikolog Ungkap Pemicunya

Yudin (50) dengan anaknya, Adelita, yang bakal mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di Universitas Indonesia (UI), Kota Depok, Kamis (23/4/2026).Kompas.com / Nabilla Ramadhian Yudin (50) dengan anaknya, Adelita, yang bakal mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di Universitas Indonesia (UI), Kota Depok, Kamis (23/4/2026).

Ibu tiga anak tersebut secara sadar membebaskan Nadif, anak sulungnya, untuk beristirahat, dan tidak menuntut evaluasi segera setelah putranya itu berjuang menembus Teknik Elektro Universitas Diponegoro (Undip), UPNVJ, serta Politeknik Negeri Jakarta (PNJ).

Baca juga: Didikan Orangtua Membentuk Ketangguhan Alfina Rahma hingga Tempuh S3 di Turki

Menyiapkan jaring pengaman mental jika hasil tak sesuai harapan

Selain menenangkan anak sesaat setelah ujian, para orangtua juga mulai menyusun rencana mitigasi stres apabila hasil seleksi yang diumumkan bulan depan tidak sesuai harapan.

Yudin (50), ayah dari Adelita yang mengincar jurusan Manajemen di Universitas Lampung (Unila) dan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), telah menyiapkan langkah hiburan jika putrinya gagal.

“Kalau nanti anak bersedih, salah satu caranya mungkin mengajak refreshing pulang ke kampung di Lampung karena dia paling senang di sana,” jelas Yudin di UI.

Sebagai ayah, ia sadar betul bahwa hasil ujian berpotensi memukul mental sang anak yang kerap memforsir diri untuk belajar hingga larut malam. Antisipasi kegagalan serupa juga telah dipikirkan oleh Hairul (55) untuk putrinya, Alfira.

Baca juga: 7 Tips Orangtua Membangun Self-Esteem Anak Perempuan

Hairul (55) sedang menunggu anak mereka, Alfira, mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di Universitas Indonesia (UI), Kota Depok, Kamis (23/4/2026).Kompas.com / Nabilla Ramadhian Hairul (55) sedang menunggu anak mereka, Alfira, mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di Universitas Indonesia (UI), Kota Depok, Kamis (23/4/2026).

Ayah yang rela masuk kerja sif malam demi menemani sang anak ujian Manajemen UNJ ini mengaku tidak terlalu khawatir jika buah hatinya harus menerima kenyataan pahit. Ia sangat memercayai keteguhan hati putrinya untuk bisa bangkit kembali.

“Anaknya teguh, pantang menyerah. Tidak ada menyerah bagi dia dan akan coba lagi nantinya,” tutur Hairul di UI.

Kendati meyakini ketangguhan mental tersebut, ia tetap menyiapkan wejangan khusus sebagai bentuk penguatan tambahan.

Hairul berpesan agar sang anak tidak menjadikan kegagalan seleksi sebagai alasan untuk menghentikan proses pengembangan diri ke depannya.

“Jangan berhenti karena belajar harus tetap jalan, tetap semangat,” pungkas Hairul.

Baca juga: Bukan Cuma Pintar, Ini 5 Ciri Anak Tangguh yang Bisa Diajarkan Orangtua

Close Ads X