Nahar (57) dan istrinya, Irma (49), sedang menunggu anak mereka, Bilqis, mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di Universitas Indonesia (UI), Kota Depok, Kamis (23/4/2026).DEPOK, KOMPAS.com - Pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer ( UTBK) yang berlangsung serentak pada 21-30 April 2026, tidak hanya menjadi ajang pembuktian akademis, tetapi juga ujian bagi kedewasaan pola asuh sebuah keluarga.
Alih-alih memaksakan kehendak layaknya zaman dahulu, para orangtua yang hadir mendampingi di lokasi ujian kini lebih memilih untuk memberikan kemerdekaan memilih bagi buah hatinya.
Adapun, Kompas.com berkesempatan menemui mereka di dua lokasi pelaksanaan UTBK, yaitu Universitas Indonesia (UI) di Kota Depok dan Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ) di Jakarta Selatan, Kamis (23/4/2026).
Baca juga: Menunggui Anak di UTBK 2026 Jadi Bentuk Dukungan Mental Orangtua
Pergeseran dinamika ini terlihat jelas dari sikap para orangtua yang menyadari bahwa anak laki-laki maupun perempuan berhak menentukan jalan hidupnya sendiri.
Mereka bersepakat untuk menekan ego pribadi, agar peserta ujian bisa menjalani pendidikan tinggi tanpa rasa terbebani oleh paksaan dari orang terdekat.
“Daripada dipaksa ya entarnya tidak sesuai, jadi terserah anak saja bebas mau pilih jurusan apa,” ujar Irma (49) saat Kompas.com temui di UI, Kota Depok, Kamis.
Irma dan suaminya, Nahar (57), merupakan salah satu potret keluarga modern yang berhasil menyingkirkan ambisi personal demi mendukung kebahagiaan anak tercinta.
Keduanya blak-blakan mengaku sempat memiliki proyeksi masa depan yang jauh berbeda untuk putri mereka, Bilqis, sebelum masa pendaftaran UTBK resmi dibuka.
Nahar awalnya sangat berharap putrinya bisa mendalami ilmu hukum, agar memiliki karier yang mapan dan sejalan dengan bayangannya.
Namun, ia akhirnya luluh dan sangat menghargai penolakan halus dari sang buah hati yang merasa tidak cocok dengan bidang tersebut.
Baca juga: Cara Orangtua Bantu Anak Kelola Stres Usai UTBK 2026
Devi (40), sedang menunggu anaknya, Aisyah, mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ) di Jakarta Selatan, Kamis (23/4/2026).“Kalau saya sih penginnya dia di hukum atau sekolah swasta, tapi dianya tidak mau,” ungkap Nahar.
Di sisi lain, Irma juga harus merelakan impiannya untuk melihat Bilqis masuk ke jurusan informatika yang saat ini sedang naik daun di bursa kerja.
Sang anak rupanya memiliki pendirian yang sangat kuat dan secara konsisten menunjukkan minat mendalam pada ilmu psikologi sejak duduk di bangku awal sekolah menengah atas.
Keputusan untuk mengikuti kemauan Bilqis tersebut didasari oleh kesadaran orangtua bahwa anaknyalah yang kelak akan menjalani beratnya rutinitas perkuliahan.
“Dianya tidak mau, katanya tidak kuat. Ya sudahlah terserah bebas saja,” tambah Irma.
Pendekatan penuh pengertian yang serupa juga diterapkan oleh Devi (40) saat mendampingi putrinya, Aisyah, menjalani tes di UPNVJ.
Ia secara penuh membebaskan anaknya untuk mengejar bidang bahasa asing dengan menyasar jurusan Sastra Inggris dan Bahasa Korea, di UI serta Universitas Negeri Jakarta (UNJ).
Baca juga: Gagal UTBK, Ini yang Harus Dilakukan Ortu untuk Membangun Kembali Kepercayaan Diri Anak
"Apa yang dia suka ya sudah kita dukung saja. Saya tidak pernah mengharuskan anak itu harus ke sini atau harus suka ini," kata Devi di UPNVJ.
Sebagai seorang ibu, Devi sangat memahami bahwa setiap individu pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing dalam ranah akademis.
Uti (45) sedang menunggu anaknya, Nadif, mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ) di Jakarta Selatan, Kamis (23/4/2026).Ia tidak pernah mempermasalahkan nilai Aisyah yang kurang maksimal pada mata pelajaran matematika lantaran sang putri terbukti memiliki daya tangkap yang sangat cepat saat mempelajari bahasa baru.
Alih-alih memaksa sang anak menguasai kelemahannya, Devi dan suami memilih untuk memfasilitasi minat bahasa tersebut secara maksimal.
"Kalau saya lihat, kalau dia belajar bahasa itu cepat dibanding belajar yang lain. Matematika itu memang dia tidak suka," jelas Devi.
Baca juga: 3 Cara Mendukung Anak yang Gagal UTBK, Jangan Dimarahi
Memberikan kemerdekaan secara utuh dalam menentukan arah masa depan juga diyakini mampu melatih rasa tanggung jawab anak sejak dini.
Hal ini dibuktikan secara langsung oleh Uti (45) yang membiarkan putra sulungnya, Nadif, memetakan sendiri target jurusannya pada seleksi krusial tahun ini.
"Minimal dia punya pilihan dan sudah ada bayangan mau ke mana setelah sekolah. Semua kemauan dia, meski pasti ada sedikit pendapat dari orangtua," tutur Uti di UPNVJ.
Pemuda tersebut dipercaya untuk menargetkan jurusan Teknik Elektro Universitas Diponegoro (Undip), UPNVJ, dan Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) murni atas dasar riset pribadinya.
Ibu pekerja ini lebih memilih memposisikan dirinya sebagai rekan diskusi bagi sang anak dalam mematangkan pilihan program studi, ketimbang bertindak sebagai sosok diktator di dalam rumah.
Setiap kali Nadif mengajukan opsi keilmuan yang terdengar asing, Uti akan berinisiatif mencari tahu terlebih dahulu profil jurusan tersebut sebelum mendiskusikannya secara mendalam dengan sang anak.
Ia akan meminta penjelasan rinci mengenai prospek karier dan gambaran lingkungan kerjanya nanti untuk menguji kematangan riset Nadif.
"Saya cuma memberi poin-poin pertanyaan saja untuk berdiskusi, oh berarti dia tahulah dan sudah punya bayangan pekerjaannya," pungkas Uti.
Baca juga: Stres Gagal UTBK? Ini Teknik Relaksasi yang Mudah Dilakukan di Rumah