David Julianto peserta UTBK SNBT 2026 di Universitas Jember, Kamis (23/04/2026).JEMBER, KOMPAS.com — Pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK SNBT) 2026 di Universitas Jember ( Unej) menghadirkan ribuan peserta dengan beragam latar belakang.
Di balik suasana ujian, tersimpan kisah perjuangan yang menunjukkan bahwa akses pendidikan tinggi tidak hanya soal akademik, tetapi juga keteguhan menghadapi kondisi hidup.
Salah satu peserta, David Julianto (19), harus mengikuti UTBK tanpa pendamping orang tua.
Ibunya telah meninggal dunia, sementara sang ayah tengah sakit.
“Seleksi UTBK membuat saya tidak tenang, tetapi atas support dari guru dan teman-teman sampai saat ini saya berani menghadapi UTBK ini,” ujarnya, Kamis (23/4/2026).
Baca juga: Kisah Anin Menembus Kedokteran Undip dengan Skor SNBP Tertinggi: Disiplin dan Konsisten
Tekanan ekonomi juga sempat membuatnya ragu, terlebih ia terlambat mendaftar Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K).
“Awalnya saya masih bimbang untuk kuliah. Tapi saya masih ingat kata-kata dari guru saya bahwa meskipun tidak ada biaya jalanin dulu InsyaAllah, Allah akan membantu,” katanya.
Meski demikian, David tetap mantap memilih Program Studi Agribisnis dan Agroteknologi. Ia bertekad mencari beasiswa lain atau bekerja sambil kuliah jika diperlukan.
Unej juga menyediakan fasilitas bagi peserta penyandang disabilitas agar dapat mengikuti UTBK dengan nyaman.
Tiga peserta di antaranya adalah Yogi Ardiansyah, Muhammad Derbian Dwi Putra, dan Carissa Vania Artamevira.
“Ruangannya bagus, AC-nya dingin, posisi kursi dan komputer juga sesuai dan sama sekali tidak menyulitkan,” ujar Derbian.