Ilustrasi UTBK. SURABAYA, KOMPAS.com - Praktik peserta Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes ( UTBK-SNBT) menggunakan joki dinilai sulit hilang sepenuhnya.
Namun masih bisa ditekan melalui pengawasan pelaksaan UTBK ketat dan membuat sistem pendidikan yang berintegritas.
Pengamat pendidikan, Doni Koesoema menyebut bahwa praktik joki UTBK berkaitan erat dengan karakter individu, sehingga tidak dapat dicegah sepenuhnya.
“Ini masalah pembentukan karakter individu dan tidak bisa dicegah secara total karena ada kebebasan,” ujarnya kepada Kompas.com, Jumat (24/4/2026).
Baca juga: Pengamat Soroti Kasus Joki UTBK 2026, Kampus Berisiko Luluskan Mahasiswa Tak Kompeten
Panitia pelaksana UTBK memiliki peran penting dalam meminimalkan praktik kecurangan tersebut. Salah satunya dengan pengawasan ketat selama pelaksanaan ujian.
Doni menekankan bahwa panita UTBK harus meningkatkan kejelian agar celah kecurangan bisa diantisipasi.
“Panitia UTBK harus lebih jeli dalam mengamankan pelaksanaan UTBK,” katanya.
Meski tidak bisa dihilangkan sepenuhnya, Doni menilai sistem pendidikan memiliki peran strategis dalam mengurangi kecenderungan individu untuk berbuat curang, seperti menggunakan jasa joki UTBK.
Baca juga: Joki UTBK 2026 Terkuak, Pengamat Soroti Pola Pikir Instan dan Peran Orangtua Peserta
Menurutnya, pendidikan harus mampu menanamkan nilai kejujuran serta membangun integritas sejak dini.
“Sistem pendidikan bisa mengurangi kecenderungan ini melalui apresiasi pada kejujuran dan integritas, juga sistem yang menumbuhkan integritas,” jelasnya.
Diberitakan sebelumnya, kasus joki UTBK 2026 kembali terungkap. Bahkan terduga pelaku telah ditangkap.
Temuan itu diungkap oleh Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang telah menangkap satu orang terduga pelaku joki saat pelaksanaan UTBK-SNBT hari pertama pada Selasa (21/4/2026).
Baca juga: IDI Soroti Bahaya Joki UTBK yang Incar FK: Loloskan Orang Tidak Kompeten
Terduga pelaku diketahui membawa KTP dan ijazah palsu. Sementara itu, peserta ujian yang menggunakan jasa joki mengincar jurusan Kedokteran di salah satu perguruan tinggi di Jatim.
Kasus ini pun telah ditangani oleh Polrestabes Surabaya. Di mana satu orang terduga pelaku tengah menjalani pemeriksaan mendalam.