Kisah Rasinah Petani yang Antar Cucu Ikut UTBK, Nginapnya di Mobil

Kompas.com - 24/04/2026, 12:51 WIB
Para orangtua yang antar anak mengikuti UTBK SNBT di UB. DOK. UBPara orangtua yang antar anak mengikuti UTBK SNBT di UB.

 

KOMPAS.com - Berkendara sejauh 211 kilometer tak terasa melelahkan bagi Rasinah. Sejauh itu, ia duduk dengan tenang selama kurang lebih 3 jam.

Dalam tenangnya, ia berdoa agar cucu pertamanya bernama Khoirus bisa lancar ujiannya.

Rasinah, petani asal Bojonegoro ini ikut mengantar Khoirus ke Pusat UTBK di Universitas Brawijaya ( UB).

Khoirus mendapat jadwal pada minggu ini.

Rasinah tak hanya berdua saja dengan Khoirus. Dia memboyong keluarga besarnya demi mendukung cucunya.

Perjalanan jauh, tentu butuh istirahat. Tapi Rasinah memilih menginap di mobil.

Baca juga: Apakah Nilai UTBK 500 Bisa Lolos Masuk PTN 2026?

”Kami menginap dan istirahat di mobil saja. Tidak apa-apa, yang penting bisa mendampingi,” ujar Rasinah dilansir dari laman UB, pada Kamis, (23/4/2026).

Baginya, fleksibilitas waktu sebagai petani adalah berkah yang memungkinkannya menyaksikan momen bersejarah dalam hidup cucunya.

Rela naik sepeda motor, cuti, dan kerja setoran

Selain Rasinah, ada kisah lain tulusnya orangtua mendukung anaknya di Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026.

Orangtua antar anak ikut UTBK SNBT di UB tahun 2026.DOK. UB Orangtua antar anak ikut UTBK SNBT di UB tahun 2026.

Zamzam, seorang Ayah asal Kediri ini menempuh perjalanan panjang dengan sepeda motor demi mengantar putranya, Sultan.

Demi momen ini, Zamzam rela menanggalkan seragam kantornya dan mengambil cuti dua hari.

”Saya berangkat dari Kediri kemarin, menginap di daerah Bukit Cemara Tujuh,” kisahnya. Baginya, menempuh puluhan kilometer dengan roda dua adalah bentuk dukungan paling nyata yang bisa ia berikan

“Ini tentang masa depan anak. Saya hanya ingin dia tahu bahwa ayahnya ada di sini, mendukung mimpinya sampai jadi nyata,” kata Zam zam

Pemandangan berbeda terlihat di depan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Pasangan suami istri, Sulastri dan Sunardi, tampak duduk tenang namun raut wajah mereka tak bisa menyembunyikan kecemasan. Mereka datang jauh-jauh dari Probolinggo sejak pukul 03.00 dini hari.
Tahun ini adalah babak kedua bagi putra mereka, Fahat, yang sempat gagal di UTBK tahun lalu.

“Karena pernah gagal, sekarang semangatnya harus lebih tinggi. Kami ingin dia merasa yakin bahwa kegagalan kemarin bukan akhir,” tutur Sulastri lembut.

Baca juga: Kisah Ortu yang Antar Anak Ikut UTBK 2026 di UB, Pilih Nginap di Mobil

Kehadiran mereka di sana adalah penawar rasa trauma, sebuah pengingat bagi Fahat bahwa ada bahu tempatnya bersandar, apapun hasilnya nanti.

Dukungan tidak selalu berupa materi atau kehadiran fisik di hari ujian. Bagi Ardian, seorang pengemudi ojek online asal Sawojajar, perjuangan sudah dimulai jauh sebelum hari ini. Di sela-sela waktu mencari penumpang, ia kerap mengirimkan tautan informasi soal-soal UTBK kepada anaknya.

”Saya ajak diskusi, saya amati proses belajarnya. Saya ingin dia siap secara mental,” ujar Ardian.

Meski harus mengejar setoran, ia memilih hadir langsung di kampus UB untuk memastikan sang anak tidak merasa berjuang sendirian.

 

Close Ads X