Lawan Keterbatasan, Cerita Perjuangan Penyandang Disabilitas Ikut UTBK 2026

Kompas.com - 26/04/2026, 14:39 WIB
Rahma Rahayu (20) dan ibundanya Diah Komalasari, hadir di ISBI menunjukan semangatnya ikuti UTBK 2026. KOMPAS.COM/AGIE PERMADIRahma Rahayu (20) dan ibundanya Diah Komalasari, hadir di ISBI menunjukan semangatnya ikuti UTBK 2026.
|

KOMPAS.com - Ujian Tertulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes ( UTBK SNBT) 2026 juga diikuti oleh peserta penyandang disabilitas.

UTBK SNBT 2026 akan berlangsung hingga 30 April 2026 ini juga mencatat beberapa perjuangan peserta penyandang disabilitas.

Keterbatasan ternyata tidak jadi alasan untuk membatasi cita-cita mereka untuk menempuh pendidikan tinggi di kampus negeri lewat jalur UTBK SNBT 2026.

Baca juga: 6 Asrama Unnes yang Bisa Jadi Tempat Tinggal Mahasiswa, Cek Cara Daftar dan Harganya

Penyandang tunarungu ikut UTBK SNBT 2026

Muhammad Pasha Fawwazdian misalnya, penyandang tunarungu dari SMAN 16 Surabaya ini memilih ikut UTBK SNBT 2026 dengan keterbatasannya.

Ia bahkan telah mempersiapkan diri dengan maksimal untuk mengikuti UTBK 2026 di Universitas Airlangga (Unair).

"Soalnya ada yang sulit dan ada juga yang mudah, tapi insyaallah bisa saya kerjakan,” kata Pasha dikutip dari laman resmi Unair, Sabtu (25/10/2026).

Menurut Pasha, soal UTBK kali ini cukup beragam, mulai dari yang mudah hingga sulit, namun tetap dapat dikerjakan dengan baik.

Pasha memilih Program Studi Psikologi Unair karena ketertarikannya membantu orang lain, terutama dalam hal konseling dan bercita-cita menjadi psikiater di masa depan.

Dukungan keluarga dan teman-teman menjadi kekuatan besar sepanjang perjalanan ini.

Ia juga mengingatkan, bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk menghalangi berkembangnya seseorang ke arah yang positif.

Menurut Pasha, keterbatasan harus dijadikan kekuatan untuk bisa menemukan kemampuan diri yang sebenarnya.

Sebagai penyandang disabilitas, Pasha juga sering dirundung atau dibully. Namun hal itu justru ia jadikan kekuatan untuk bisa berkembang menjadi sosok yang lebih baik lagi.

Baca juga: Lulusan SMK dan Vokasi Sulut Siap Ikut SMK Go Global, Potensi di Bidang Pertanian-Perhotelan

"Pesan saya, disabilitas bukanlah halangan. Jadikan disabilitas sebagai kekuatan dan kelebihan tersendiri. Saya banyak mengalami pembullyan verbal, tapi itu justru membuat saya semakin kuat," jelas Pasha.

Sekadar informasi, di Unair ada 22 peserta yang tidak memperjuangkan mimpinya untuk masuk perguruan tinggi. Peserta penyandang disabilitas mulai dari tunadaksa hingga tunarungu mengikuti UTBK di Unair pada Selasa (21/4/2026).

Perjuangan peserta cerebral palsy

Dikutip dari Kompas.com, peserta UTBK 2026 juga ternyata ada berasal dari penyandang disabilitas cerebral palsy.

Peserta itu adalah Rahma Rahayu yang ingin masuk Institute Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung.

Rahma berjuang, datang bersama ibunda tercinta, Diah Komala (50) yang mendampinginya mengikuti ujian.

Rahma membawa satu tujuan besar, membuka jalan menuju bangku kuliah di Lulusan SLB Karya Bakti Bandung itu bercita-cita masuk jurusan Sosiologi di Universitas Padjadjaran (Unpad).

Tentu bukan tanpa alasan, ketertarikannya pada kehidupan sosial tumbuh dari pengalaman pribadinya sebagai penyandang disabilitas.

"Saya suka berinteraksi dengan masyarakat," ujar Rahma singkat dan penuh keyakinan.

Di balik pilihan itu tersimpan tujuan mulia, sang ibu menuturkan bahwa Rahma ingin berperan lebih jauh, bukan hanya sebagai individu yang bertahan, tetapi juga sebagai suara bagi sesama penyandang disabilitas.

Baca juga: Cerita Wafi, Kuliah Sambil Jadi Marbot Masjid Kini Raih Wisudawan Terbaik UIN Antasari

"Memang suka berinteraksi dengan masyarakat dan dia melihat kaum disabilitas khususnya, dia ingin memajukan sesama disabilitas untuk mencapai harkatnya mengejar cita-citanya, prestasi gitu. Jadi, dia pengen advokasi juga," kata Diah.

Keyakinan itu bukan sekadar harapan kosong, selama berbulan-bulan, Rahma mempersiapkan diri, belajar untuk menghadapi UTBK 2026.

Optimisme dan semangat yang tinggi tampak tersirat di senyum wajahnya, Rahma siap menghadapi UTBK 2026.

"Yakin banget, berbulan-bulan (belajar) sudah siap," katanya tersenyum optimistis.

Bagi Rahma, UTBK 2026 bukan satu-satunya pintu menuju masa depan. Ia juga dikenal gemar menulis.

Bahkan, sajak dan puisi yang kerap ia ciptakan beberapa kali dibacakan dalam berbagai acara. Sang ibu menuturkan, jika pun jalur akademik tak berjalan sesuai rencana, keluarganya percaya bakat itu bisa berkembang.

"Dia penulis buku, dia membuat sajak, kalau ada event dia bacakan sajaknya dan puisinya sendiri. Jadi, kalaupun tidak bisa diterima di pendidikan negeri, dia bisa kembangkan bakatnya," pungkas Diah.

Perjalanan Rahma menuju titik ini juga tak instan. Ia sempat melewatkan kesempatan setelah lulus dua tahun lalu karena keterbatasan informasi.

Baca juga: Kisah ASN Buono Aji, Lulus S2 UGM dengan IPK Sempurna Kurang dari 2 Tahun

Kini, ia kembali mencoba, meraih mimpi yang sempat tertunda. Kampus layani peserta UTBK penyandang disabilitas

Sejumlah perguruan tinggi memang melayani penyandang disabilitas untuk ikut UTBK SNBT 2026 dengan berbagai macam fasilitas penunjang.

Dari pantauan Kompas.com, berikut beberapa kampus yang memberikan fasilitas bagi peserta difabel UTBK 2026.

Ilustrasi peserta UTBK SNBT 2026.Dok. Humas UNAIR Ilustrasi peserta UTBK SNBT 2026.

1. UGM (Universitas Gadjah Mada)

Universitas Gadjah Mada (UGM) fokus memfasilitasi peserta disabilitas tuli dan fisik. Sedangkan peserta dengan disabilitas netra dipusatkan di Universitas Negeri Yogyakarta sesuai arahan panitia SNPMB (Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru).

UGM menyediakan pendampingan dalam bentuk penerjemah bagi peserta tunarungu selama ujian berlangsung. Pendamping berperan membantu menyampaikan instruksi.

2. Unpad (Universitas Padjadjaran)

Universitas Padjadjaran (Unpad) menyediakan pendampingan juru bahasa isyarat (JBI) bagi peserta teman Tuli serta fasilitas penunjang yang ramah disabilitas (barrier-fee).

Selain memberikan fasilitas penunjang bagi peserta difabel, Unpad juga memberikan tempat khusus bagi peserta yang mengalami cedera akibat kecelakaan menjelang pelaksanaan UTBK.

3. UB (Universitas Brawijaya)

Universitas Brawijaya (UB) menyediakan berbagai fasilitas khusus, mulai dari akses ruang ujian yang ramah disabilitas hingga pendamping khusus guna mendukung kelancaran peserta dalam mengerjakan ujian.

Baca juga: Kisah Nadine, Disabilitas Tunarungu Bekerja di Hotel Bintang Lima Internasional

Koordinator Pelaksana UTBK UB Arif Hidayat menekankan pada setiap pengawas UTBK untuk memahami karakteristik masing-masing peserta, khususnya peserta difabel yang membutuhkan mekanisme pelaksanaan ujian khusus.

4. Undip (Universitas Diponegoro)

Sebanyak 6 peserta disabilitas yang terdiri dari 3 peserta tunadaksa dan 3 peserta tunarungu mengikuti UTBK di Universitas Diponegoro (Undip) pada Selasa (21/4/2026).

Para peserta difabel ditempatkan di lokasi strategis yang menunjang kebutuhan mereka, di antaranya di Fakultas Hukum yang memiliki infrastruktur lift serta area duduk yang dapat disesuaikan untuk menunjang kebutuhan mobilitas peserta tuna daksa.

 

5. Unej (Universitas Jember)

Dalam rangka menyukseskan pelaksanaan UTBK 2026, khususnya bagi peserta difabel, Universitas Jember (Unej) menyiapkan berbagai fasilitas penunjang guna memastikan kenyamanan peserta difabel dalam mengikuti ujian.

6. Unesa (Universitas Negeri Surabaya)

Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menyiapkan ruang khusus serta pendamping.

Infrastruktur teknis seperti jaringan dan perangkat audio telah disiapkan agar peserta dapat mengerjakan soal secara mandiri melalui perintah suara.

7. Unhas (Universitas Hasanuddin)

Unhas memastikan fasilitas komputer yang digunakan peserta difabel telah dirancang berdasarkan kebutuhan mereka. Sehingga, tidak ada fasilitas pendamping bagi para peserta difabel.

Close Ads X