Polrestabes Surabaya dalam konferensi pers kasus joki UTBK, Kamis (7/5/2026).SURABAYA, KOMPAS.com — Polrestabes Surabaya mengungkap mayoritas klien yang menyewa jasa joki Ujian Tulis Berbasis Komputer untuk Seleksi Nasional Berdasarkan Tes ( UTBK-SNBT) menargetkan Fakultas Kedokteran.
Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Luthfie Sulistiawan mengatakan, fakta tersebut diperoleh dari hasil pemeriksaan terhadap para tersangka sindikat joki UTBK.
“Tapi dari keterangan tersangka bahwa sebagian besar memang adalah Fakultas Kedokteran,” ujar Luthfie dalam konferensi pers, Kamis (7/5/2026).
Baca juga: Terungkap, Peserta SNBT yang Sewa Joki UTBK Incar Jurusan Kedokteran
Menurut dia, tingginya minat terhadap fakultas kedokteran didorong tingkat kesulitan tes yang dinilai lebih tinggi dibanding jurusan lain.
“Ketika ditanya kenapa seperti itu karena memang tesnya relatif lebih sulit atau membutuhkan kecerdasan yang lebih dari yang lain,” jelasnya.
Berdasarkan data sementara yang dikumpulkan polisi, terdapat sekitar 150 klien yang menyewa jasa joki UTBK.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 114 peserta disebut berhasil lolos seleksi.
Para penyewa jasa joki tidak hanya menargetkan perguruan tinggi negeri di Pulau Jawa, tetapi juga kampus swasta hingga perguruan tinggi di luar Jawa.
“Tidak hanya kampus-kampus yang ada di Jawa saja, tetapi juga sampai luar Jawa, salah satunya seperti di Kalimantan,” ucapnya.
Baca juga: Terungkap, Tersangka Joki UTBK Berprofesi Dokter Sampai PPPK
Dalam pengungkapan kasus tersebut, polisi menyita uang tunai Rp 290 juta sebagai barang bukti.
Selain itu, polisi mengamankan satu unit card printer HID Fargo DTC1250E, puluhan dokumen identitas dan ijazah, blanko KTP kosong, hingga bahan material pembuatan KTP.
Barang bukti lain yang turut diamankan meliputi stempel instansi pendidikan, puluhan kartu SIM, telepon genggam, laptop, MacBook Pro, memory card, serta foto ukuran 2x3.
Polisi juga menyita sejumlah dokumen pendukung terkait UTBK dan administrasi calon mahasiswa atas nama berbagai pihak.
Luthfie menegaskan, pihaknya akan terus mendalami kasus tersebut hingga menelusuri peserta UTBK yang menggunakan jasa joki.
“Kita harus bongkar jaringan joki bagi para calon mahasiswa ini supaya tidak ada lagi nanti aksi-aksi sejenis ini yang tentu mencederai dunia pendidikan kita,” pungkasnya.