14 Pelaku joki UTBK yang ditangkap Polrestabes Surabaya dalam konferensi pers kasus joki UTBK, Kamis (7/5/2026).SURABAYA, KOMPAS.com - Polrestabes Surabaya membeberkan motif di balik nekatnya para pelaku praktik joki Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK). Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap 14 tersangka yang telah diamankan, mayoritas pelaku mengaku terdesak faktor ekonomi.
Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Luthfi Sulistiawan, mengungkapkan bahwa para pelaku umumnya berasal dari kalangan menengah ke bawah. Upah besar dari hasil menjoki menjadi daya tarik utama untuk memenuhi kebutuhan hidup dan membantu keluarga.
“Karena memang keterbatasan dana dan memang yang dia dapatkan ini adalah untuk memenuhi kebutuhan dia termasuk membantu juga ke keluarga,” tutur Luthfi dalam konferensi pers, Kamis (7/5/2026).
Baca juga: Skor Joki UTBK di Atas 700 Semua, Polrestabes Surabaya: Pelaku Akui Soal Relatif Mudah
Praktik ilegal ini ternyata memutar uang dalam jumlah yang sangat besar. Untuk satu kali order jasa joki UTBK, tarif yang dipatok kepada peserta berkisar antara Rp 500 juta sampai Rp 700 juta. Nilai tersebut nantinya dibagi-bagi kepada anggota sindikat di setiap klaster.
Khusus untuk penjoki lapangan yang bertugas mengerjakan soal secara langsung, mereka biasanya menerima upah sebesar Rp 20 juta hingga Rp 30 juta per ujian. Namun, angka ini bisa melonjak drastis jika targetnya adalah universitas ternama.
“Untuk kampus favorit, upah penjoki bisa sampai Rp 75 juta," jelas Luthfi.
Baca juga: 7 Fakta Sindikat Joki UTBK Surabaya, Tarif Rp 700 Juta hingga Melibatkan Dokter
Penyelidikan kepolisian mengungkap bahwa aksi sindikat ini diduga telah berlangsung cukup lama, yakni sejak periode 2017 hingga 2026, sebelum akhirnya terbongkar pada 21 April 2026 lalu. Dalam menjalankan aksinya, mereka menggunakan peralatan profesional untuk memalsukan identitas peserta agar lolos dari pemeriksaan pengawas.
Sejumlah barang bukti telah disita oleh petugas, di antaranya:
Luthfi menegaskan pihaknya berkomitmen untuk membongkar jaringan ini hingga ke akar-akarnya, termasuk mengejar para peserta ujian yang terbukti menyewa jasa mereka.
"Kita harus bongkar jaringan joki ini supaya tidak mencederai dunia pendidikan kita," tegasnya.