Farah Sa?diah Miranti menceritakan bagaimana ia tembus ke ITB dengan mengandalkan soal-soal gratisan. BANDUNG, KOMPAS.com — Farah Sa’diah Miranti membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi tidak selalu menjadi penghalang untuk meraih mimpi.
Dengan penghasilan orangtua sekitar Rp 500.000 per bulan, ia berhasil lolos ke Institut Teknologi Bandung ( ITB) tanpa mengikuti bimbingan belajar mahal seperti kebanyakan siswa lainnya.
“Saya ingin juga bimbel, tapi tidak ada biaya. Orangtua kerja serabutan, sehingga saya berusaha untuk mencari pundi-pundi lain entah itu dengan mengajar les, termasuk memilih sekolah asrama. Saya mencoba belajar mandiri dan meyakinkan keluarga bahwa saya baik-baik saja,” ujar Farah dalam rilisnya, Sabtu (7/3/2026).
Baca juga: Medan Ekstrem, Begini Perjuangan Mahasiswa ITB Bangun Pipa 2,5 Km di Aceh dalam 3 Hari
Ia kini diterima di Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) ITB melalui jalur seleksi nasional.
Sejak SMA, Farah telah terbiasa hidup mandiri. Ia menempuh pendidikan di SMAN CMBBS, sekolah berbasis asrama yang membebaskan biaya pendidikan.
Bagi Farah, kehidupan asrama bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang pembentukan karakter. Di sana ia belajar disiplin, mengatur waktu, serta menjaga fokus untuk meraih cita-cita.
Perjalanan menuju kampus impian tidak selalu berjalan mudah. Saat banyak temannya mengikuti bimbingan belajar intensif untuk menghadapi Ujian Tulis Berbasis Komputer ( UTBK), Farah justru melatih ekstrakurikuler renang untuk menambah penghasilan.
Keinginan mengikuti bimbel sempat terlintas. Namun kondisi ekonomi keluarga membuatnya memilih belajar secara mandiri.
Meski begitu, Farah tidak menyerah. Ia terus berlatih soal dan mencari berbagai sumber belajar yang bisa diakses secara gratis.
Baca juga: Dosen ITB Kembangkan Mikroalga untuk Mitigasi Perubahan Iklim
Ketekunan Farah membuahkan hasil. Pada 2024, ia meraih medali emas nasional dalam ajang Pusprenas dan Indonesia Youth Science (IYS).