Farah Sa?diah Miranti menceritakan bagaimana ia tembus ke ITB dengan mengandalkan soal-soal gratisan. Ia juga berhasil mengantarkan anak-anak didiknya di ekstrakurikuler renang meraih sejumlah prestasi.
Namun di balik pencapaian tersebut, Farah mengaku beberapa kali harus mengundurkan diri dari perlombaan karena terkendala biaya pendaftaran.
Perjalanan Farah berubah ketika seorang guru mengenalkan program Learning Camp (LC) Beasiswa Perintis yang diselenggarakan Rumah Amal Salman.
Program tersebut memberikan pembinaan intensif untuk persiapan UTBK dengan pengajar berkualitas tanpa biaya.
“Learning Camp membuat saya bisa belajar UTBK dengan materi yang matang dan pengajar luar biasa, tanpa harus mengkhawatirkan biaya,” kata Farah.
Melalui program itu, Farah memperoleh strategi belajar terstruktur, simulasi ujian, serta pendampingan akademik.
Hasilnya, ia meraih skor UTBK tinggi dan dinyatakan lolos ke ITB.
Kini Farah juga menjadi penerima manfaat Perintis Leadership Program (PLP). Ia masih harus menempuh perjalanan akademik sekitar empat tahun ke depan hingga lulus dari ITB.
“Pendidikan adalah jembatan masa depan. Bukan hanya untuk saya, tapi juga untuk orang-orang yang ingin saya bantu nanti,” ujarnya.
Program Beasiswa Perintis sendiri menggunakan dana zakat dan infak dari para donatur. Sejak berjalan pada 2010, program ini telah meluluskan lebih dari 1.000 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi negeri.
Saat ini, Beasiswa Perintis membiayai sekitar 450 mahasiswa dari angkatan 2022 hingga 2025.