Suasana para peserta yang melaksanakan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT).Selain faktor individu, Totok juga menyoroti peran orangtua yang masih memiliki pola pikir lama, yakni menganggap perguruan tinggi negeri (PTN) sebagai satu-satunya pilihan terbaik.
Padahal, menurut dia, pendidikan tinggi tidak hanya bergantung pada nama kampus, tetapi juga pada kesesuaian bidang studi dengan minat dan potensi anak.
“Kebanyakan orang tua masih berpikiran lama, yaitu PTN yang terbaik. Padahal kuliah sekarang bukan hanya tentang perguruan tingginya saja, tetapi juga bidang studinya,” imbuhnya.
Ia lantas mengingatkan agar orangtua tidak memaksakan kehendak kepada anak. Sebab, karena tekanan tersebut dapat mendorong munculnya praktik curang seperti joki.
"Si anak belum tentu nyaman dan cocok. Ini generasi sandwich atau strawberry yang katanya perlu pendekatan khusus dalam menentukan kampus pilihannya," tuturnya.
Baca juga: Pakai Joki UTBK 2026? Siap-siap Didiskualifikasi dan Diblacklist Seumur Hidup dari PTN
Totok menekankan bahwa membangun sistem penindakan terhadap kecurangan jauh lebih sulit dan mahal dibandingkan upaya pencegahan.
Ia mengibaratkan pelaku kecurangan akan selalu mencari celah dalam sistem.
“Pengalaman kami dalam merancang kebijakan adalah jauh lebih sulit dan mahal dalam membangun sistem penindakan. Ibaratnya maling akan selalu cari celah untuk bisa mencuri,” katanya.
Karena itu, ia menilai lebih baik melakukan pendekatan preventif melalui penguatan integritas dan budaya jujur dalam pendidikan.