Peserta UTBK-SNBT 2026: Arsyita dan Sabrina yang hendak ujian sesi 2 di UNJ, Jakarta Timur, Kamis (23/4/2026).
KOMPAS.com - Kesempatan masuk kuliah di perguruan tinggi negeri (PTN) di Indonesia terbuka melalu tiga jalur umum secara nasional.
Jalur SNBP (Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi) yang pertama kali dibuka tak memerlukan tes. Karena jalur ini hanya mengandalkan nilai rapor dari tingkat pertama sekolah jenjang menengah atas atau sederajat.
Namun persaingan di SNBP tentunya sangatlah ketat apalagi diikuti berbagai siswa dari seluruh provinsi.
Mereka yang gagal, punya kesempatan kedua lewat SNBT (Seleksi Nasional Berdasarkan Tes) yang diseleksi melalui Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK).
Arsyita dan Sabrina sama-sama merasakan momen tak lolos di SNBP 2026 yang hasilnya diumumkan pada 31 Maret lalu.
"Tahu gagal SNBP itu sakit banget sih soalnya udah ngarep dan rencananya habis SNBP mau healing, mau cari kerjaan juga kan lumayan waktu kosongnya. Udah mau santai. Tapi pas tau SNBP merah, 'Ya Allah harus belajar lagi nih'," beber Arsyita yang sudah tiba di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) sejak pukul 9.30 untuk mengikuti UTBK sesi 2, Kamis (23/4/2026).
Baca juga: Tunggu Anak Selama UTBK 2026, Orangtua Tak Henti Doa dan Ikut Cemas
Sabrina, murid SMK di area Jakarta Selatan juga, berniat bekerja usai mengikuti SNBP sembari menunggu dimulainya perkuliahan. Namun apa boleh buat.
"Aduh itu sempat down kayaknya 2 harian deh, nangisin SNBP. Tapi habis itu udah sih belajar aja," ungkap Sabrina.
Arsyita mengaku ia langsung mendalami materi dengan cepat untuk mempersiapkan diri mengikuti UTBK.
"Aku benar-benar ngebut langsung semuanya kayak sehari bisa 12 jam belajar full non-stop. Pindah-pindah ke perpus, ke kafe sama teman-teman. Sebisa mungkin kalau emang ada waktu kosong belajar semua, sampai belajar di YouTube di internet pokoknya semuanya dicoba," ucap Arsyita yang tak mengikuti bimbel (bimbingan belajar) khusus.