Polrestabes Surabaya saat menunjukkan sejumlah barang bukti dalam konferensi pers kasus joki UTBK, Kamis (7/5/2026).SURABAYA, KOMPAS.com – Pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) tahun 2026 diguncang temuan praktik perjokian yang masif dan terorganisir.
Sindikat ini diketahui mematok tarif fantastis demi meloloskan peserta ke jurusan impian.
Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI), Eduart Wolok, mengungkapkan bahwa mayoritas kecurangan tersebut mengincar program studi (prodi) kedokteran.
Status bergengsi dan jaminan masa depan mapan menjadi alasan utama mengapa jurusan ini menjadi "tambang emas" bagi sindikat joki.
Baca juga: Bergengsi dan Menjanjikan, 90 Persen Praktik Joki UTBK Sasar Jurusan Kedokteran
“Karena memang saat ini jurusan kedokteran dianggap masih sebuah jurusan yang bergengsi, menjanjikan masa depan yang lebih baik. Makanya lebih dari 90 persen kasus kecurangan joki memilihnya kedokteran,” kata Eduart saat ditemui di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Sabtu (9/5/2026).
Penyidikan yang dilakukan Polrestabes Surabaya mengungkap fakta mengejutkan mengenai nilai transaksi dalam praktik ini.
Tarif yang ditawarkan sindikat kepada kliennya berkisar antara Rp 500 juta hingga Rp 700 juta, tergantung pada tingkat kesulitan kampus tujuan.
Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Luthfi Sulistiawan menjelaskan bahwa uang tersebut dibagi-bagi ke berbagai lapisan dalam jaringan sindikat.
"Jumlah ini dibagi-bagi pada setiap pelaksana di jaringannya sampai ke joki yang melaksanakan ujian. Rata-rata untuk joki sendiri sekitar Rp 20 - 30 juta. Namun untuk kampus favorit, upah penjoki bisa sampai Rp 75 juta," ujar Luthfi.
Ironisnya, dari 14 tersangka laki-laki yang telah diamankan, latar belakang mereka sangat beragam, mulai dari mahasiswa aktif, wiraswasta, pegawai P3K, hingga oknum dokter.