Pengguna Joki Terbanyak di UTBK SNBT 2026 dari Kedokteran, Biaya Capai Rp 700 Juta

Kompas.com - 26/05/2026, 09:27 WIB
Ketua Umum Tim Penanggung Jawab SNPMB 2026, Eduart Wolok diwawancarai usai konferensi pers hasil UTBK-SNBT di Kemdiktisaintek, Jakarta Pusat, Senin (25/5/2026). KOMPAS.com/MELVINA TIONARDUSKetua Umum Tim Penanggung Jawab SNPMB 2026, Eduart Wolok diwawancarai usai konferensi pers hasil UTBK-SNBT di Kemdiktisaintek, Jakarta Pusat, Senin (25/5/2026).

KOMPAS.com - Peserta pengguna jasa joki terbanyak di Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) dalam rangka Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) tahun 2026 adalah mereka yang memilih jurusan kuliah Kedokteran.

Ketua Umum Tim Penanggung Jawab SNPMB 2026, Eduart Wolok menuturkan pada konferensi pers hasil SNBT pada Senin (25/5/2026) bahwa ditemukan 27 peserta UTBK yang memakai jasa joki.

"Ya, 27 kasus di pelaksanaan UTBK tahun ini yang berhasil kita deteksi dan kita lakukan proses untuk tidak mengikuti UTBK SNBT," kata Eduart Wolok usai konferensi pers di Kemdiktisaintek, Jakarta Pusat pada Senin (25/5/2026).

UTBK SNBT telah diselenggarakan secara nasional pada 21-30 April lalu.

Joki tersebut hendaknya akan menggantikan para peserta saat mengerjakan ujian.

"(Lebih banyak) Kedokteran, karena ditemukan di hari pertama dan hari kedua (ujian) waktu di mana memang peminat untuk prodi Kedokteran itu memang dialokasikan di situ," ujar Eduart Wolok.

Ia mengungkapkan bahwa biaya yang dikeluarkan para peserta UTBK untuk penggunaan jasa joki tersebut di kisaran ratuan juta.

"Variatif ya, kalau soal angka (biaya) joki itu variatif. Dari keterangan yang kami dapatkan itu ada yang macam-macam angkanya. Tapi ada sekitar Rp 300, Rp 400, bahkan ada yang Rp 700 juta," tutur Eduart Wolok.

Baca juga: DPR Komisi X Desak Mahasiswa yang Pakai Joki untuk Masuk Universitas Harus Dikeluarkan

Tindak Lanjut

Peserta yang tertangkap basah menggunakan jasa joki mendapat sanksi blacklist dari Sistem Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) tahun 2026. Termasuk tidak bisa mengikuti Seleksi Jalur Mandiri di seluruh perguruan tinggi negeri di Indonesia.

"Kita blacklist dari jalur penerimaan di perguruan tinggi negeri. Jadi dia tidak bisa masuk perguruan tinggi negeri," ucap Eduart Wolok.

Page:
Close Ads X