Ilustrasi dokter, jurusan kedokteran. “Kalau saya melihat sih, kemungkinan besar, mungkin ya, orang yang memiliki ambisi untuk menjadi seorang dokter,” tambahnya.
“Kalau sewa-sewa joki ya, mungkin dia orang yang kaya, kepengen anaknya, pengen jadi dokter. Tapi dari sisi nilai belum sesuai kemampuan, akhirnya ya itu dia pakai joki,” tambah dia lagi.
Di sisi lain, IDI mengapresiasi peserta yang menempuh jalur jujur dan mengandalkan kemampuan sendiri.
Baca juga: Unesa Perketat Pengawasan UTBK Imbas Ada Praktik Joki, Ini Langkah-langkahnya
“Kalau sejauh ini, kami justru mengapresiasi mereka yang benar-benar dari nol, belajarnya ekstra, kemudian dia memang bisa punya cita-cita, ingin mengabdi pada kemanusiaan,” ucapnya.
Dia menegaskan, sistem seleksi sudah menyediakan berbagai jalur, mulai dari SNBP, tes, hingga jalur mandiri. Selain itu, proses penyaringan tetap terjadi saat kuliah.
“Mulai dari dia (calon mahasiswa) memang berprestasi dari sekolahnya, mulai SNBP, ada yang lewat tes, ada yang otonomi kampus. Seleksi alamnya pada saat kuliah, bertahan atau tidak, toh misalnya dia nanti lulus, seleksi alam akan terjadi,” ujarnya.
Sebelumnya, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, mengungkap adanya peserta SNBT yang menyewa joki untuk mengincar kursi Fakultas Kedokteran.
Temuan itu disampaikan saat meninjau pelaksanaan UTBK di Universitas Negeri Surabaya, Rabu (22/4/2026) lalu.
Baca juga: Joki UTBK Terungkap, Kampus-kampus di Surabaya Perketat Pengawasan
“Iya, kedokteran (jurusan yang diincar peserta penyewa joki), kedokteran salah satu perguruan tinggi di Jawa Timur,” ujar Atip.
Dia menegaskan, peserta yang terbukti menggunakan joki akan didiskualifikasi dan di-blacklist dari seluruh Perguruan Tinggi Negeri (PTN) seumur hidup.
“Karena ini sangat mencederai dari tujuan pendidikan kita yang mengedepankan integritas dan kejujuran. Jadi, boleh saja kita melakukan kekeliruan di dalam proses-proses keilmuan, tapi tidak boleh tidak jujur,” ucapnya.