Cerita Orangtua, Lebih Hargai Proses Belajar Anak untuk UTBK

Kompas.com - 24/04/2026, 07:00 WIB
Devi (40), sedang menunggu anaknya, Aisyah, mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ) di Jakarta Selatan, Kamis (23/4/2026). Kompas.com / Nabilla RamadhianDevi (40), sedang menunggu anaknya, Aisyah, mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ) di Jakarta Selatan, Kamis (23/4/2026).

“Urusan nanti anak bagaimana perkara nilai, ibu tidak ambil pusing. Yang penting anak sudah berusaha serius memanfaatkannya,” tambah Endah.

Baca juga: Pakai Joki UTBK 2026? Siap-siap Didiskualifikasi dan Diblacklist Seumur Hidup dari PTN

Pandangan serupa juga dipegang teguh oleh Yudin (50) yang sengaja mengambil cuti kerja demi mendampingi putrinya, Adelita.

Dia mengaku sangat terharu melihat dedikasi sang anak mengejar kursi Manajemen di Universitas Lampung (Unila) dan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), hingga rela terbangun pada pukul dua dini hari untuk menunaikan salat tahajud.

“Yang penting kita sudah usaha benar-benar, sudah usaha serius. Hasilnya nanti kita lihat saja seperti apa dan diserahkan saja,” kata Yudin di kampus UI.

Menurunkan ekspektasi demi cegah risiko stres berat dan depresi

Sikap legowo para orangtua ini rupanya tidak lahir tanpa alasan yang mendasar di tengah maraknya kompetisi masuk perguruan tinggi negeri.

Devi (40), ibu dari Aisyah yang sedang berjuang menembus jurusan Sastra Inggris dan Bahasa Korea di UI serta Universitas Negeri Jakarta (UNJ), mengaku sangat menghindari pola asuh yang terlampau kaku.

“Kalau anak dituntut terlalu banyak sama orangtuanya, itu bikin anak stres. Nanti ujung-ujungnya bisa melakukan hal-hal yang tidak diinginkan seperti bunuh diri,” ungkap Devi di UPNVJ.

Baca juga: Listrik Sempat Padam Saat UTBK 2026 di UNJ, Panitia Pastikan Jawaban Peserta Aman

Berangkat dari fenomena mengkhawatirkan tersebut, Devi selalu menegaskan kepada putrinya bahwa pencapaian akademik bukanlah penentu nilai diri seorang anak di mata keluarga.

Ia secara konsisten membebaskan sang anak dari beban ekspektasi yang mengekang agar tidak merasa tertekan saat harus memecahkan soal-soal sulit saat ujian.

“Tidak apa-apa nilai jelek juga, yang penting anak jangan stres. Jangan merasa dituntut terlalu banyak sama orangtua,” jelas Devi.

Baca juga: Tak Selalu Sedih, Ini 4 Tanda Depresi yang Sering Tidak Disadari

Page:
Close Ads X