Rahma Rahayu (20) dan ibundanya Diah Komalasari, hadir di ISBI menunjukan semangatnya ikuti UTBK 2026.BANDUNG, KOMPAS.com - Siang itu, suasana terasa berbeda di Kampus Institute Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung. Ketegangan begitu terasa ketika para peserta Ujian Tulis Berbasis Komputer ( UTBK) tengah menunggu pelaksanaan ujian.
Menariknya, tahun ini ISBI mendapatkan 20 orang peserta UTBK penyandang disabilitas, salah satunya adalah Rahma Rahayu (20).
Dengan langkah yang tak sepenuhnya mudah karena kondisi cerebral palsy yang ia alami, Rahma berjuang, datang bersama ibunda tercinta, Diah Komala (50) yang mendampinginya mengikuti ujian.
Rahma membawa satu tujuan besar, membuka jalan menuju bangku kuliah.
Lulusan SLB Karya Bakti Bandung itu bercita-cita masuk jurusan Sosiologi di Universitas Padjadjaran (Unpad).
Baca juga: 12.508 Peserta Ikuti UTBK SNBT 2026 di Unsika, Panitia: Jangan Percaya Kelulusan Instan
Tentu bukan tanpa alasan, ketertarikannya pada kehidupan sosial tumbuh dari pengalaman pribadinya sebagai penyandang disabilitas.
"Saya suka berinteraksi dengan masyarakat," ujar Rahma singkat dan penuh keyakinan.
Di balik pilihan itu tersimpan tujuan mulia, sang ibu menuturkan bahwa Rahma ingin berperan lebih jauh, bukan hanya sebagai individu yang bertahan, tetapi juga sebagai suara bagi sesama penyandang disabilitas.
"Memang suka berinteraksi dengan masyarakat dan dia melihat kaum disabilitas khususnya, dia ingin memajukan sesama disabilitas untuk mencapai harkatnya mengejar cita-citanya, prestasi gitu. Jadi, dia pengen advokasi juga," kata Diah.
Keyakinan itu bukan sekadar harapan kosong, selama berbulan-bulan, Rahma mempersiapkan diri, belajar untuk menghadapi UTBK.