Ilustrasi UTBK SNBT di Pusat UTBK ITB.
KOMPAS.com - Stres pasti muncul saat mempersiapkan diri untuk hadapi UTBK SNBT 2026 (Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes).
Jalur UTBK SNBT merupakan salah satu momentum penentu masa depan.
Hal ini menjadi sebuah tantangan besar bagi peserta. Tak hanya menguji kemampuan akademik, UTBK juga menguji kondisi kesehatan mental sebagian peserta melalui besarnya tekanan yang disebabkannya.
Melkior Natanael, salah satu peserta UTBK di Universitas Brawijaya (UB), mengungkapkan bahwa selama ini ia telah mempersiapkan UTBK dengan baik.
Namun, pemuda asal Malang ini mengaku stres tetap datang, khususnya pada hari-hari mendekati UTBK.
“Sebenarnya selama persiapan saya sudah merasa cukup optimis dan yakin pada diri sendiri. Tapi setelah melihat hasil tryout, saya menjadi gelisah karena kurang puas dengan hasilnya. Hal ini membuat saya semakin memaksa diri untuk lebih rajin belajar,” ujarnya dilansir dari laman UB pada Jumat (24/4/2026).
Baca juga: Tunggu Anak Selama UTBK 2026, Orangtua Tak Henti Doa dan Ikut Cemas
Peserta lain bernama Fika juga mengakui kecemasannya tidak berakhir usai menyelesaikan UTBK 2026. Ia bahkan tetap mengkhawatirkan hasilnya kelak.
“Setelah menyelesaikan UTBK, saya masih merasa cemas karena memiliki harapan besar untuk lolos di program studi yang saya inginkan, namun sebagian dari diri saya juga merasa lega,” ujarnya di hari yang sama.
Dosen Psikologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UB Dr. Sumi Lestari, mengatakan, stres yang dialami peserta UTBK merupakan hal yang wajar karena sejalan dengan ambisi kuat untuk mencapai impian mereka.
“UTBK dipersepsikan sebagai gerbang utama menuju perguruan tinggi impian serta menjadi parameter kesuksesan. Maka dari itu, peserta akan memberi upaya maksimal yang cenderung berpotensi menjadi sumber tekanan yang menyebabkan datangnya rasa lelah fisik maupun psikologis,” ujarnya.