Cerita 2 Peserta UTBK 2026 Sempat Merasa Stres, Psikolog UB Beri Solusinya

Kompas.com - 24/04/2026, 07:02 WIB
Ilustrasi peserta UTBK SNBT 2026. Dok. Humas UNAIR Ilustrasi peserta UTBK SNBT 2026.

Sumi menekankan pentingnya mengontrol tekanan atau kecemasan berlebihan. Ia menyebutkan dua tipe stres dalam ilmu psikologi, yaitu Eustress (stres yang bersifat konstruktif) dan Distress (bersifat destruktif).

Stres konstruktif merupakan stres yang berawal dari rasa cemas akan kegagalan, yang kemudian dapat membangun kesadaran individu untuk melakukan persiapan matang sebagai upaya mengantisipasi kegagalan tersebut.

Sedangkan, stres destruktif merupakan stres berlebihan yang justru merusak. Stres destruktif akan memicu terjadinya stres performa, di mana seorang individu berada dalam kondisi evaluatif yang menyebabkan kecenderungan merendahkan diri sendiri dan membandingkan diri dengan orang lain tanpa berpikir secara realistis.

Baca juga: Apakah Nilai UTBK 500 Bisa Lolos Masuk PTN 2026?

Menurut dia, dalam konteks UTBK, perlu dihindari stres yang bersifat destruktif, karena ketakutan akan kegagalan yang terlalu berlebihan dapat merugikan diri sendiri.

"Ketika hal ini kontraproduktif, seorang individu dapat memforsir diri untuk belajar tetapi cenderung melupakan dirinya sendiri. Seperti melupakan waktu makan dan tidak meluangkan waktu istirahat yang cukup,” jelas wanita yang juga menjabat sebagai Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kewirausahaan Mahasiswa FISIP ini.

Kebiasaan overthinking juga merupakan salah satu ciri-ciri stres destruktif yang perlu dikontrol. Cara mengontrolnya adalah dengan berusaha meyakinkan diri sendiri atas kemampuan yang telah dimiliki.

Ia mengatakan, ketika peserta telah mempersiapkan UTBK dengan baik, mereka cenderung akan lebih percaya diri dan terhindar dari overthinking.

“Jika persiapan sudah dilakukan sebaik mungkin, seorang individu dapat melakukan evaluasi terkait kekurangan yang perlu diperbaiki. Jika sudah mampu mengevaluasi kinerja diri sendiri, maka tidak akan terjadi overthinking. Mereka akan lebih siap untuk menerima hasil apa adanya,” terangnya.

Sumi menambahkan bahwa seorang individu harus mengetahui batas kemampuan diri sendiri sebelum menetapkan ekspektasi diri.

Disarankan untuk menetapkan standar harapan sesuai dengan yang dimiliki, agar terhindar dari self-criticism atau kecenderungan untuk mengkritik diri sendiri yang diakibatkan oleh ketidakpuasan diri.

Page:
Close Ads X