Nahar (57) dan istrinya, Irma (49), sedang menunggu anak mereka, Bilqis, mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di Universitas Indonesia (UI), Kota Depok, Kamis (23/4/2026).Alih-alih memaksa sang anak menguasai kelemahannya, Devi dan suami memilih untuk memfasilitasi minat bahasa tersebut secara maksimal.
"Kalau saya lihat, kalau dia belajar bahasa itu cepat dibanding belajar yang lain. Matematika itu memang dia tidak suka," jelas Devi.
Baca juga: 3 Cara Mendukung Anak yang Gagal UTBK, Jangan Dimarahi
Memberikan kemerdekaan secara utuh dalam menentukan arah masa depan juga diyakini mampu melatih rasa tanggung jawab anak sejak dini.
Hal ini dibuktikan secara langsung oleh Uti (45) yang membiarkan putra sulungnya, Nadif, memetakan sendiri target jurusannya pada seleksi krusial tahun ini.
"Minimal dia punya pilihan dan sudah ada bayangan mau ke mana setelah sekolah. Semua kemauan dia, meski pasti ada sedikit pendapat dari orangtua," tutur Uti di UPNVJ.
Pemuda tersebut dipercaya untuk menargetkan jurusan Teknik Elektro Universitas Diponegoro (Undip), UPNVJ, dan Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) murni atas dasar riset pribadinya.
Ibu pekerja ini lebih memilih memposisikan dirinya sebagai rekan diskusi bagi sang anak dalam mematangkan pilihan program studi, ketimbang bertindak sebagai sosok diktator di dalam rumah.
Setiap kali Nadif mengajukan opsi keilmuan yang terdengar asing, Uti akan berinisiatif mencari tahu terlebih dahulu profil jurusan tersebut sebelum mendiskusikannya secara mendalam dengan sang anak.
Ia akan meminta penjelasan rinci mengenai prospek karier dan gambaran lingkungan kerjanya nanti untuk menguji kematangan riset Nadif.
"Saya cuma memberi poin-poin pertanyaan saja untuk berdiskusi, oh berarti dia tahulah dan sudah punya bayangan pekerjaannya," pungkas Uti.
Baca juga: Stres Gagal UTBK? Ini Teknik Relaksasi yang Mudah Dilakukan di Rumah