Sejumlah peserta mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) 2026 di Universitas Diponegoro (UNDIP), Tembalang, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (22/4/2026). Sebanyak 23.933 peserta tercatat mengikuti UTBK-SNBT 2026 di UNDIP yang digelar pada 21-29 April 2026. Gejala yang mengemuka dalam kasus UTBK 2026 menunjukkan adanya kecenderungan normalisasi terhadap praktik kecurangan.
Sosiologi organisasi, Diane Vaughan (1996) memperkenalkan konsep normalization of deviance, yaitu proses ketika perilaku menyimpang secara perlahan diterima sebagai hal yang wajar karena terus-menerus terjadi tanpa konsekuensi memadai.
Dalam konteks UTBK, pengulangan praktik curang dengan variasi modus yang semakin canggih membentuk persepsi bahwa kecurangan adalah bagian dari strategi untuk bertahan dalam kompetisi.
Pada tahap tertentu, penyimpangan tidak lagi dirasakan sebagai penyimpangan, melainkan sebagai kebiasaan yang memperoleh legitimasi sosial secara diam-diam.
Normalisasi ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Ia berkelindan dengan kultur yang menempatkan hasil sebagai ukuran utama keberhasilan.
Seleksi masuk perguruan tinggi negeri dipersepsikan sebagai gerbang mobilitas sosial yang menentukan masa depan.
Dalam situasi tersebut, tekanan untuk berhasil menjadi sangat kuat, dan bagi sebagian pihak, tekanan itu membuka ruang rasionalisasi terhadap cara-cara yang tidak sah.
Keberhasilan yang diperoleh melalui jalur yang tidak jujur tetap dipandang sebagai keberhasilan, karena yang terlihat di permukaan adalah status dan capaian formal.
Di sisi lain, komersialisasi pendidikan turut memperkuat kecenderungan tersebut. Pendidikan dipahami sebagai proses pembentukan manusia berilmu sekaligus sebagai investasi sosial yang bernilai ekonomi.
Lulus dari perguruan tinggi tertentu menjadi simbol prestise dengan implikasi pada peluang kerja, jaringan sosial, dan posisi dalam masyarakat.