Krisis Integritas UTBK

Kompas.com - 25/04/2026, 08:50 WIB
Sejumlah peserta mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) 2026 di Universitas Diponegoro (UNDIP), Tembalang, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (22/4/2026). Sebanyak 23.933 peserta tercatat mengikuti UTBK-SNBT 2026 di UNDIP yang digelar pada 21-29 April 2026. ANTARA FOTO/Aprillio AkbarSejumlah peserta mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) 2026 di Universitas Diponegoro (UNDIP), Tembalang, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (22/4/2026). Sebanyak 23.933 peserta tercatat mengikuti UTBK-SNBT 2026 di UNDIP yang digelar pada 21-29 April 2026.

Ketika simbol tersebut menjadi sangat dominan, proses untuk mencapainya mengalami distorsi. Distorsi ini bekerja secara halus, menggeser orientasi dari makna menuju capaian, dari proses menuju hasil.

Perkembangan teknologi juga memberi kontribusi signifikan terhadap perubahan pola kecurangan.

Baca juga: Menggagas Upah Minimum Profesi Dosen

Kehadiran perangkat komunikasi mini, akses internet yang luas, serta kemampuan kecerdasan buatan dalam mengolah informasi secara cepat membuka kemungkinan baru dalam praktik curang.

Teknologi yang pada dasarnya netral menjadi instrumen yang efektif ketika digunakan tanpa landasan etika yang kuat. Dalam situasi ini, batas antara kemampuan personal dan bantuan eksternal menjadi semakin kabur.

Dalam kerangka lebih luas, pemikiran Michael J. Sandel (2020) menunjukkan bahwa ketika masyarakat terlalu menekankan prestasi sebagai ukuran tunggal keberhasilan, muncul tekanan yang mendorong individu untuk memenangkan kompetisi dengan pelbagai cara.

Meritokrasi yang dilepaskan dari fondasi moral berpotensi melahirkan praktik yang menghalalkan cara, karena nilai keberhasilan ditempatkan di atas integritas proses.

Pendidikan karakter yang selama ini dikembangkan di sekolah dan keluarga menghadapi tantangan serius.

Nilai kejujuran sering kali diajarkan dalam bentuk normatif, tetapi tidak selalu diinternalisasi dalam praktik kehidupan sehari-hari.

Ketika peserta didik menghadapi situasi yang menuntut keputusan moral, referensi nilai yang dimiliki belum tentu cukup kuat untuk menahan dorongan pragmatis.

Pada ruang inilah integritas diuji, bukan pada saat nilai diajarkan, melainkan ketika pilihan harus diambil.

Close Ads X