Lawan Keterbatasan, Cerita Perjuangan Penyandang Disabilitas Ikut UTBK 2026

Kompas.com - 26/04/2026, 14:39 WIB
Rahma Rahayu (20) dan ibundanya Diah Komalasari, hadir di ISBI menunjukan semangatnya ikuti UTBK 2026. KOMPAS.COM/AGIE PERMADIRahma Rahayu (20) dan ibundanya Diah Komalasari, hadir di ISBI menunjukan semangatnya ikuti UTBK 2026.
|

Menurut Pasha, keterbatasan harus dijadikan kekuatan untuk bisa menemukan kemampuan diri yang sebenarnya.

Sebagai penyandang disabilitas, Pasha juga sering dirundung atau dibully. Namun hal itu justru ia jadikan kekuatan untuk bisa berkembang menjadi sosok yang lebih baik lagi.

Baca juga: Lulusan SMK dan Vokasi Sulut Siap Ikut SMK Go Global, Potensi di Bidang Pertanian-Perhotelan

"Pesan saya, disabilitas bukanlah halangan. Jadikan disabilitas sebagai kekuatan dan kelebihan tersendiri. Saya banyak mengalami pembullyan verbal, tapi itu justru membuat saya semakin kuat," jelas Pasha.

Sekadar informasi, di Unair ada 22 peserta yang tidak memperjuangkan mimpinya untuk masuk perguruan tinggi. Peserta penyandang disabilitas mulai dari tunadaksa hingga tunarungu mengikuti UTBK di Unair pada Selasa (21/4/2026).

Perjuangan peserta cerebral palsy

Dikutip dari Kompas.com, peserta UTBK 2026 juga ternyata ada berasal dari penyandang disabilitas cerebral palsy.

Peserta itu adalah Rahma Rahayu yang ingin masuk Institute Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung.

Rahma berjuang, datang bersama ibunda tercinta, Diah Komala (50) yang mendampinginya mengikuti ujian.

Rahma membawa satu tujuan besar, membuka jalan menuju bangku kuliah di Lulusan SLB Karya Bakti Bandung itu bercita-cita masuk jurusan Sosiologi di Universitas Padjadjaran (Unpad).

Tentu bukan tanpa alasan, ketertarikannya pada kehidupan sosial tumbuh dari pengalaman pribadinya sebagai penyandang disabilitas.

"Saya suka berinteraksi dengan masyarakat," ujar Rahma singkat dan penuh keyakinan.

Page:
Close Ads X